56 Karyawan Trans Semarang Dipecat Karena Curang

Petugas tiket yang berbuat curang hingga menyebabkan kebocoran pendapatan ini kembali jadi keluhan masyarakat dalam satu bulan terakhir.

SEMARANG – Sedikitnya ada 56 karyawan Trans Semarang yang sejauh ini telah dipecat karena melakukan perbuatan kecurangan dalam tugas sejak sistem pembayaran tiket non tunai diterapkan.

 Kepala BLU UPTD Trans Semarang Ade Bhakti Ariawan saat sidak pemeriksaan tiket ke penumpang antisipasi petugas tiket curang di Halte Pemuda, Senin (22/7/2019).

Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Trans Semarang, Ade Bhakti Ariawan mengatakan, pada 2017 lalu ketika pertama kali diterapkan sistem tiketing ada 40 karyawan yang dikeluarkan karena kecurangan ini.

Kemudian tahun 2018 lalu ada sekitar 13 orang dan 2019 sampai pertengahan bulan Juli ini baru tiga orang yang dipecat. Isu petugas tiket yang berbuat curang hingga menyebabkan kebocoran pendapatan ini kembali jadi keluhan masyarakat dalam satu bulan terakhir.

‘’Jadi ternyata masih memungkinkan sistem digital ticketing yang kita bangun itu untuk karyawan berbuat curang. Dengan edukasi dan shock terapi seperti ini harapannya karyawan akan bekerja lebih baik,’’ kata Ade saat sidak Petugas Tiketing Armada (PTA) Trans Semarang di Halte Pemuda, Senin (22/7/2019).

Dia menegaskan, sejak Februari sampai pertengahan Juli 2019 ini sudah ada enam karyawan yang dikeluarkan, tiga di antaranya dipecat karena curang. Sementara tiga lainnya karena perbuatan indisipliner dalam bekerja.

Modus yang dilakukan petugas tiket dalam berbuat curang salah satunya contohnya adalah memberikan tiket bekas ke penumpang. Karena itu dihimbau penumpang untuk tidak membuang tiket di dalam bus ataupun halte.

‘’’Petugas tiket kami di dalam bus mungkin tujuannya awalnya hanya membersihkan, tapi karena mungkin ada niat atau ada kesempatan kemudian menggunakan tiket bekas itu untuk dijual lagi,’’ ujar Ade.

Adapun kebocoran pendapatan akibat petugas tiket yang berbuat curang sendiri nilainya tidak sampai ratusan juta. Disebutkan kerugiannya hanya sekitar atau tidak sampai Rp 500 ribu.

Ditambahkan, mulai tahun ini akan diusahakan menaikkan kesejahteraan karyawan khususnya petugas tiketing, yang setiap hari berhubungan langsung dengan masyarakat. Insentif yang tahun lalu hanya menerima Rp200 ribu sampai Rp 450 ribu, tahun ini akan dinaikkan 100 persen dengan catatan kinerja baik dan penilaian kinerjanya sesuai yang ditetapkan.

‘’Jadi tahun ini bisa mendaptkan insentif Rp 400 ribu sampai Rp 900 ribu per orang. Tentu itu harus berbanding lurus dengan pendapatan, ketika pendapatan tinggi otomatis insetif yang mereka terima juga akan lebih tinggi,’’ tegasnya.

Sedangkan target pendapatan Trans Semarang sendiri di tahun 2019 adalah sebesar Rp32 miliar, lebih tinggi dari 2018 sebesar Rp30,3 miliar yang tercapai 91 persen. Tahun ini target tersebut optimis akan surplus karena sampai Juni lalu sudah tercapai 93 persen. (duh)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.