Nobar Film G30S PKI, Santri Ponpes Ba’Lawi Tertidur Pulas

SEMARANG – Sejumlah santri Pondok Pesantren (Ponpes) Gunung Jati Ba’Lawi, Gunungpati Semarang tertidur pulas saat film Gerakan 30 September (G30S) PKI diputar di pondoknya, Jumat malam (22/9).Muhammad Ilham, seorang santri Ponpes Ba’Lawi mengaku pemutaran film tersebut cenderung membingungkan karena banyak adegan yang dipotong oleh pihak panitia.

Ilham bilang adegan pada film G30S PKI justru baginya tak menarik untuk ditonton. Sebab, penayangan filmya tidak utuh. Bahkan, menurutnya banyak adegan yang sengaja dipangkas.”Tadi pas nembak-nembak, saya jadi bingung sendiri, apanya yang ditembak. Tahu-tahu sudah pindah cerita lainnya. Enggak seru, bikin bosan,” kata Ilham kepadametrosemarang.com.

Ia sudah dua kali menonton film G30S PKI. Untuk penayangan yang pertama pada tahun lalu, dirinya masih bisa menikmati alur ceritanya sampai tuntas.Tetapi pada sesi nonton bareng tahun ini, ia merasa suasana pemutaran film sedikit menegangkan. “Sepi enggak ada hiburannya. Saya ngantuk pas nonton filmnya tadi. Teman saya malah sudah balik ke kamar,” akunya.

Dandim 0733/BS Letkol Zainur Bahar mengatakan, durasi film G30S PKI sengaja dipangkas 1 jam 10 menit dari kondisi normal 3 jam karena alasan teknis. Pemangkasan durasi film supaya tidak menimbulkan ketakutan di benak para santri. “Tidak mengurangi makna sejarahnya kok. Mereka bebas menyaksikannya,” kilahnya.

Saat film G30S PKI diputar ulang, ia mengajak semua anggota BAIS Semarang, ormas keagamaan, tokoh agama Gunungpati serta Pengasuh Ponpes Ba’Lawi.

Ia menyatakan pemutaran film G30S PKI untuk menyikapi ideologi komunis yang merongrong negara Indonesia. Pasalnya, saat ini telah terjadi proxy war dimana paham komunis sudah menyusup dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Makanya, santri-santri diingatkan kembali bahwa Indonesia punya sejarah pahit saat tragedi 1965 silam. Biar mereka tahu sejarah bangsa ini,” sergahnya.KH Muh Nasroni Pengasuh Ponpes Gunung Jati Ba’lawi mengklaim pemutaran film tragedi kemanusiaan itu bisa menumbuhkan cinta tanah air dalam benak para santri.

Ia pun ingin agar pondoknya tetap eksis bersama TNI dan pemerintah dalam memerangi ideologi komunisme yang ia sebut telah menyusup ke dalam jati diri bangsa Indonesia.

“Setelah menonton film itu, semoga kita semua mendapat pemahaman yang benar untuk meningkatkan kedisiplinan sekaligus menumbuhkan cinta tanah air. Karena para pendahulu kita banyak yang menjadi korban keganasan komunis. Maka jangan sampai negara Indonesia jadi korban ideologi komunis,” ungkapnya.

Ia mengingatkan kepada para santri supaya mewaspadai hal-hal berbau provokatif yang menyebar di media sosial. “Jika kita bisa menyaring informasi, maka NKRI menjadi semakin kuat,” imbuhnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

34 − = 31

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.