30 Persen Desa Wisata di Jateng Tak Berkembang

Kemasan produk acaranya yang tidak bisa dipasarkan secara optimal.

SEMARANG- Minimnya strategi pemasaran membuat banyak desa wisata di Jawa Tengah tak berkembang.

Umbul Ponggok, salah satu desa wisata yang sukses menggaet wisatawan. Foto: metrojateng.com/dok

Saat ini Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah mencatat dari 235 desa wisata yang ada di wilayahnya, terdapat 30 persen di antaranya stagnan.

Kepala Disporapar Jawa Tengah, Urip Sihabudin, mengungkapkan persoalan yang mengganjal para pengelola desa wisata kebanyakan pada segi kemasan produk acaranya yang tidak bisa dipasarkan secara optimal.

“Banyak sekali desa wisata di sini yang harus diajari melakukan packaging. Kita harus mengajarkan kepada mereka bagaimana cara-cara mengemas acara yang menarik, menghibur wisatawan sehingga bisa diperkenalkan kepada khalayak ramai,” ujar Urip kepada metrojateng.com, Jumat (2/1/2018).

Urip bilang selama ini ada banyak pengelola desa wisata yang kelihatan tidak bisa mengemas sebuah acara wisata dengan menarik. Misalnya membuat desain brosur saja, katanya hanya dilakukan asal-asalan.

“Itu-itu aja yang mereka buat. Ya, jadinya enggak menarik buat dijual,” akunya.

Ia mengaku terus berupaya mendorong pegiat desa wisata untuk belajar mengemas acara yang baik. Selanjutnya bisa dipromosikan melalui media sosial.

Ia mengungkapkan ada sekitar 20 desa wisata yang tak berkembang di Jawa Tengah kondisinya sangat sulit ditangani. Letaknya ada di pesisir utara Jawa Tengah dan sebagian Banyumas.

“Sebenarnya merata jumlahnya. Tetapi yang mencolok desa wisatanya perkembangannya benar-benar stagnan itu di Tegal, Semarang, Rembang, Kudus dan beberapa titik lainnya di Banyumas. Banyak yang tidak bisa mengembangkan desa wisatanya,” tutur Urip. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.