21 Pasien Gangguan Jiwa di Solo Gagal Nyoblos

Pasien yang bisa mencoblos adalah mereka yang dalam kondisi tenang, stabil, dan sudah melewati proses pemeriksaan.

SOLO – Sebanyak 56 pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) RSJD Dr. Zainuddin, Solo menggunakan hak suaranya di TPS 108 yang berlokasi di aula setempat. Jumlah tersebut lebih sedikit dari Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) sebelumnya yang telah didata oleh KPU sebanyak 77 pasien.

Suasana coblosan di TPS 108 RSJD Dr Zainuddin Solo. Foto: metrojateng.com

Ketua KPPS TPS 108, Sumino mengatakan ada 21 pasien ODGJ yang sebelumnya masuk dalam data DPTb gagal mencoblos. Ia menjelaskan ada beberapa alasan kegagalan tersebut, di antaranya pasien dinyatakan boleh pulang dan pasien tidak lolos mengikuti proses screening lanjutan oleh dokter.

“Jumlah keseluruhan DPTb di RSJD Dr Zainuddin ini ada sebanyak 81, sebanyak 56 di antaranya adalah pasien dan sisanya merupakan karyawan, perawat, dokter, dan petugas keamanan rumah sakit,” jelasnya saat ditemui di lokasi, Rabu (17/4/2019).

Sementara itu, Spesialis Kedokteran Jiwa RSJD Dr.Zainuddin, Dr. Maria Rini Yuni Indriati menjelaskan, ketidakhadiran 21 pasien tersebut sudah sesuai dengan ketetapan dari rumah sakit. Di mana, pasien yang bisa mencoblos adalah mereka yang dalam kondisi tenang, stabil, dan sudah melewati proses pemeriksaan.

Salah satunya dengan pemberian pertanyaan kepada pasien yang mengacu pada tiga pertanyaan. “Pertanyaannya, hari ini ada pemilihan untuk wakil rakyat, apa yang dilakukan oleh orang-orang itu (wakil rakyat). Kedua, seperti apakah pilihan Anda dan apakah cukup mampu memberikan hak pilih itu,” terangnya.

Masing-masing pertanyaan nilainya 1-2, sehingga total nilai ada 6. Jika nilai yang diperoleh pasien tersebut lebih dari 4, maka dia berhak memberikan suara pada pemilihan presiden dan anggota legislatif. Dari hasil tersebut, rata-rata pasien yang terpilih berhasil menjawab 5 sampai 6 pertanyaan.

Suasana TPS 108 ini juga berbeda. Para petugas TPS dan saksi menggunakan pakaian adat Jawa lengkap dengan musik gendhing Jawa. Suasana tersebut dibangun untuk menghindari stres para pemilih.

“Kami sengaja mengunakan busana Jawa ini dan membunyikan gendhing Jawa agar suasana lebih santai, tidak tegang dan menghindarkan stres dari para pasien,” ungkap Humas RSJD Dr Zainuddin, Solo, Totok Hardiyanto. (MJ-25)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.