2 Caleg Alami Gangguan Psikis Berobat di Semarang

Sulit Tidur, Dihantui Kekalahan

Kedua caleg mengeluh kesulitan tidur, gelisah, jantung berdebar lebih kencang ketimbang biasanya, serta diliputi perasaan was-was akan kalah dalam Pemilu.

SEMARANG – Persaingan yang ketat dalam perebutan suara pada bursa Pemilu 2019 terbukti berdampak pada kondisi psikis para kontestan calon anggota legislatif (caleg). Hingga saat ini, sudah ada dua orang yang maju sebagai caleg dalam Pemilu Pemilu 2019, mengalami gangguan psikis. Keduanya terdata menjalani konsultasi yang disediakan oleh pengelola Rumah Sakit (RS) Santo Elisabeth Semarang.

ilustrasi

Psikolog RS Elisabeth, Probowatie Tjondronegoro menyebut, kedua pasien tersebut dihantui kekhawatiran kekalahan menjelang proses pencoblosan. “Sudah ada dua caleg yang datang untuk berkonsultasi kepada kami. Mereka datang bersama istrinya tepat sebelum coblosan Pemilu kemarin,” kata Probowatie ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu siang (24/4/2019).

Menurut Probowatie, keluhan gangguan psikis yang disampaikan dua orang tersebut telah mengarah pada gangguan fisik.  Keduanya mengeluh kesulitan tidur, gelisah, jantung berdebar lebih kencang ketimbang biasanya, serta diliputi perasaan was-was akan kalah dalam Pemilu.

Mereka, lanjut Probowatie, berprofesi sebagai wiraswastawan yang berniat maju menjadi anggota legislatif atas dorongan ingin memperbaiki derajatnya di depan keluarga dan masyarakat luas. “Kami tidak bisa menyebutkan identitas namanya. Ketika datang kemari mengakunya mau coba alih profesi menjadi anggota legislatif. Pas mau proses coblosan, ada rasa khawatir kalah yang menghantui mereka. Saya rasa ini jadi dampak yang ditimbulkannya jika seseorang tidak siap menerima kekalahan,” kata Probowatie.

Ia menekankan bahwa ketika seseorang memutuskan maju sebagai caleg, seharusnya menyiapkan mental berkompetisi yang tidak hanya siap menang, melainkan juga harus siap kalah. Lebih jauh lagi, ia menyarankan sedianya setiap caleg yang mengikuti kontestasi politik membangun jiwa legowo. Sehingga ketika diterpa kekalahan, tidak mengalami gangguan mental yang mengarah pada stres berat hingga depresi.

“Orang yang bertanding itu harus siap kalah. Tapi itu juga tergantung motivasi mereka masing-masing. Apakah nyaleg buat kepentingan rakyat atau semata untuk meraup uang. Kalau nyalon (mencalonkan diri – red) untuk membawa perubahan bagi rakyat, kami perkirakan dia lebih siap mentalnya, ia akan legowo kalau kalah. Beda dengan yang cuma mengejar uang saja, dia pasti jor-joran. Nah kalau kalah hartanya terkuras habis. Ujung-ujungnya dia bisa mengalami gangguan psikis berat,” ujarnya.

Ia pun memprediksi bahwa kontestasi Pemilu 2019 yang bersamaan dengan Pilpres justru menimbulkan tekanan batin sangat kuat yang dialami para caleg. Peluang ratusan caleg mengalami depresi dan stres terbuka lebar seiring rendahnya pengetahuan warga yang memahami visi misi para caleg. “Yang jelas potensi para caleg mengalami stres itu jadi makin besar sekali,” tandasnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.