2.512 Mahasiswa KKN Undip Ditarik Kampus

42 Hari Membaur dengan Masyarakat

Beberapa produk yang sudah disosialisaikan kepaea masyarakat adalah briket. Mahasiswa KKN Kelurahan Grobogan, Kecamatan Grobogan, membuat briket dari sekam padi, sabut kelapa, tepung kanji

SEMARANG – Sebanyak 2.512 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim I Tahun 2019 Universitas Diponegoro (Undip) ditarik kembali dari lokasi KKN. Kegiatan KKN Undip Tim I Tahun 2019 diselenggarakan selama 42 hari, mulai 7 Januari sampai dengan 20 Februari 2019.
kkn undip
Upacara penarikan Sebanyak 2.512 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim I Tahun 2019 Universitas Diponegoro (Undip), Kamis (21/2/2019). Foto: metrojateng.com/Ade Lukmono
“Secara umum, KKN dikategorikan baik dengan ragam kegiatan pemberdayaan masyarakat dimana kesemuanya itu merupakan hilirisasi penerapan Iptek atau hasil proses belajar mengajar para mahasiswa,” Kepala P2KKN Undip, Dr. Ir. Edy Prasetyo, Kamis (21/2/2019).
Edy menambahkan KKN merupakan suatu bentuk pendidikan dengan cara memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk berinteraksi dengan masyarakat di luar kampus dan secara langsung mengidentifikasikan masalah-masalah serta membantu menangani permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam pembangunan wilayah di lokasi KKN.
Rektor Undip, Yos Johan Utama menyampaikan terlaksananya kegiatan KKN ini, masyarakat dirasa mampu memberikan pelajaran langsung kepada mahasiswa. Mahasiswa diharapkan juga mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat, mampu berintegeritas serta berguna bagi masyarakat.

Pembuatan Briket

Beberapa produk yang sudah disosialisaikan kepaea masyarakat adalah briket. Briket adalah bahan bakar padat dengan bentuk dan ukuran tertentu yang telah mengalami proses pemampatan sehingga daya pembakarannya lebih baik.
Mahasiswa KKN Kelurahan Grobogan, Kecamatan Grobogan, Ansala telah membuat briket dari sekam padi, sabut kelapa, tepung kanji dan air panas, sedangkan alat yang digunakan adalah saringan, alu, wadah, cerobong kawat besi, bambu atau paralon.
Dia menjelaskan, briket yang dihasilkan ini berkualitas baik karena mudah dinyalakan, tidak mengeluarkan asap, berdaya bakar lebih besar, panas kontinue dan kedap air serta hasil pembakaran tidak berjamur bila disimpan pada waktu lama.
Ansala memaparkan,  proses pembuatan briket adalah dengan cara sabut kelapa dibakar didalam cerobong kawat besi, sekam satu karung diletakkan disekeliling cerobong hingga semua sekam menjadi arang. Arang sekam dihaluskan dengan alu dan diayak dengan saringan agar diperoleh arang yang sama halusnya. Selanjutnya membuat lem dari campuran tepung kanji dan air panas dengan perbandingan 3 banding 1. Kemudian arang sekam dan lem kanji dicampur dengan perbandingan kurang lebih 3 banding 2 diaduk hingga merata.
“Adonan briket siap dicetak dengan menggunakan bambu atau paralon, jemur dan keringkan briket yang telah dicetak hingga benar-benar kering dan briket siap digunakan. Sedangkan pengembangkan briket untuk skala komersil dapat menggunakan alat pencetak briket yang sudah ada dipasaran,” terangnya. (ade)
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.