Notice: Array to string conversion in /home/metg6994/public_html/wp-content/plugins/jetpack/modules/carousel/jetpack-carousel.php on line 425
Home > PLESIRAN > KULINER JATENG > Wedang Ronde, Minuman Tradisional untuk Persembahan Para Dewa

Wedang Ronde, Minuman Tradisional untuk Persembahan Para Dewa


Notice: Array to string conversion in /home/metg6994/public_html/wp-content/plugins/jetpack/modules/carousel/jetpack-carousel.php on line 425

wedang ronde

WEDANG Ronde merupakan minuman tradisional asli dari Jawa selain jamu dan dawet. “Wedang” dalam Bahasa Jawa berarti “minuman”. Sedangkan ronde adalah adonan yang terdiri dari campuran tepung beras dan gula merah berbentuk bulatan-bulatan dan dibagian dalamnya berisi kacang yang dihancurkan. Untuk membentuk Wedang Ronde, adonan ronde ini dicelupkan ke dalam air jahe bercampur sereh yang masih panas.

Dua komponen tersebut (air jahe dan ronde) adalah bahan utama pembentuk Wedang Ronde. Meskipun demikian agar lebih nikmat biasanya ditambahkan bahan pelengkap lain seperti kolang kaling, irisan roti, agar-agar dan kacang tanah. Air jahe dibuat dengan cara merebus jahe bakar yang telah dihancurkan bersama gula merah (atau gula kelapa) dan daun sereh hingga mendidih.

Wedang Ronde biasanya disajikan dalam mangkuk kecil dan sangat cocok di konsumsi saat cuaca dingin atau musim penghujan. Selain nikmat rasanya, Wedang ronde juga bisa menghangatkan badan, terutama tenggorokan, dada dan perut. Wedang ronde juga sangat bagus untuk kesehatan dan meningkatkan stamina.

Menilik dari beberapa literatur, sejarah Wedang Ronde ini dimulai di masa Dinasti Han. Dikisahkan terdapat seorang dayang kerajaan bernama Yuanxiao. Ia sangat merindukan kedua orang tuanya tetapi tidak dapat meninggalkan istana, akhirnya ia terus menangis dan ingin bunuh diri. Seorang menteri yang mengetahui hal tersebut berjanji akan menolongnya. Apa yang perlu dilakukan Yuanxiao adalah membuat Tangyuan sebanyak mungkin (yang merupakan masakan terbaik yang bisa ia buat) sebagai persembahan kepada dewa di tanggal 15 bulan 1 Imlek. Yuanxiao berhasil melakukannya dan sang kaisar merasa puas. Yuanxiao diizinkan bertemu kedua orang tuanya. Semenjak saat itu, pada tanggal 15 bulan 1 penanggalan Imlek diadakan Festival Yuanxiao atau dikenal dengan nama Festival Lampion.

Menurut catatan sejarah, tangyuan telah menjadi camilan populer di Tiongkok semenjak Dinasti Sung. Sebagian warga Tionghoa di Indonesia membedakan tangyuan dan yuanxiao sebagai berikut. Tangyuen adalah ronde tanpa isi (disajikan dengan air jahe manis) yang dikonsumsi pada tanggal 22 Desember, sementara yuanxiao adalah ronde dengan isi manis (disajikan dengan kuah tawar) yang dikonsumi pada purnama pertama pada tahun baru Imlek. Di Pulau Bangka, tangyuan dinamakan “siet yen”, yang dibuat dari ketan atau ubi yang disajikan dengan kuah dari gula aren atau jahe.

Sekitar tahun 1930 an, minuman ini sudah populer di Jawa Tengah yakni daerah sekitar kota Boyolali, Solo, Salatiga dan Ambarawa. Konon minuman ini favorit seorang pejuang nasional, tokoh Katholik Mgr. Soegijapranata saat tinggal di Ambarawa.

Ronde merupakan tangyuan yang telah bercampur dengan budaya masing-masing daerah atau selera lokal. Cara pembuatannya mirip dengan pembuatan tangyuan oleh penduduk Tiongkok bagian selatan, diisi kacang manis tumbuk, dan disajikan dengan air jahe. Istilah Wedang Ronde merujuk pada air jahe panas (wedang adalah bahasa Jawa yang merujuk pada minuman panas) yang disajikan bersama dengan ronde. Wedang ronde sudah sangat umum bagi masyarakat Indonesia sehingga banyak yang mengira bahwa asalnya adalah asli dari Indonesia. Nah, sekarang tak hanya bisa menikmati hangatnya Wedang ronde,tapi kita juga sudah mengerti legendanya. Yuk,kita nikmati wedang ronde sambil ditemani rintik hujan sore hari ini. (eva)

Ini Menarik!

Bungalow atau Kamar Saja, Semua Ada di Karimunjawa Inn

Share this on WhatsApp     BERWISATA ke Karimunjawa, tak mungkin cukup sehari saja. Dikarenakan …

Silakan Berkomentar