Home > JATENG RAYA > Wartawan Magelang Gelar Aksi Keprihatinan

Wartawan Magelang Gelar Aksi Keprihatinan

Aksi keprihatinan PWI Kota Magelang terhadap tindak kekerasan yang dilakukan aprat Polri dan Satpol PP Banyumas terhadap lima wartawan yang melakukan tugas jurnalistik. Aksi dilakukan di ruang media, Selasa (10/10). (foto: metrojateng.com/ch kurniawati)

MAGELANG – Sejumlah wartawan dari media cetak, televisi, online dan radio yang tergabung dalam PWI Magelang, melakukan aksi keprihatinan, Selasa (10/10). Aksi itu menyikapi kekerasan yang dilakukan aparat Polri dan Satpol PP Banyumas terhadap jurnalis saat melakukan tugas liputan.

Diketahui, lima orang wartawan Banyumas menjadi korban tindak kekerasan. Kelimanya tengah melakukan tugas jurnalistik, meliput aksi Komunitas Selamatkan Slamet di halaman Kantor Bupati, Senin (9/20) sekitar pukul 22.00 WIB. Namun peliputan dihalang-halangi oleh polisi dan Satpol PP yang berjaga.

Wartawan dilarang mendokumentasikan pembubaran massa aksi. Salah satu wartawan, Darbe Tyas dipukul oleh oknum polisi dan Satpol PP, sehingga mengalami luka-luka serta kamera dirampas.

Para wartawan berkumpul di ruang media dan membawa poster dengan berbagai tulisan keprihatinan dan mengutuk aksi kekerasan  yang masih saja terjadi pada wartawan. Aksi diawali dengan doa bersama dipimpin Ketua PWI Kota Magelang, Adi Daya Perdana.

Para wartawan meletakkan perlengkapan peliputan, seperti kamera dan kartu pers. Bunga-bunga ditaburkan di atasnya. Dilanjut dengan pembacaan puisi berjudul “Sajak Wartawan” oleh Widodo, wartawan televisi. Widodo dengan suara lantangnya, sangat menghayati puisi karya Norman Adi Satrio.

“Sebagai wartawan, saya lebih banyak bertanya daripada menuliskan berita. Karena di ini negeri, berita adalah sari, yang sudah disaring, dalam saringan bungkam. Yang  celahnya kecil sekali. Saya, bertanya kepada salah satu pejabat pemegang rezim, apakah bapak tidak melas, kepada rakyat? Keluar dari pintu kantornya, dia memanggil: Mas!, Saya menengok, dia tersenyum, dan: Dor!Saya tidak ingat lagi,” begitu penggalan puisi yang dibaca Widodo.

Aksi diakhiri dengan pernyataan sikap bahwa, PWI mengutuk tindakan penghalang-halangan terhadap tugas wartawan dan kekerasan oleh aparat kepolisian dan Satpol PP yang menimpa wartawan di Banyumas. PWI Magelang juga mendesak Polres Banyumas agar menindak pelaku tindak kekerasan tersebut, baik perseorangan maupun kelompok sesuai hukum yang berlaku.

“Aksi ini kami adakan sebagai bentuk solidaritas terhadap rekan-rekan kami yang jadi korban kekerasan,” kata Adi Daya. Tugas wartawan dilindungi UU dan aksi kekerasan melanggar  UU No 40/1999 Tentang Pers. Pasal 4 ayat 3 yang berbunyi, untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Dalam kesempatan itu, para wartawan menyanyikan lagu nasional “Bagimu Negri” sebagai tanda cinta wartawan terhadap bangsa Indonesia. Dan diakhiri kembali dengan doa bersama. (MJ-24)

 

 

Ini Menarik!

Gerindra Bakal Umumkan Cagub Jateng Pekan Depan

Share this on WhatsApp SEMARANG – Nama calon gubernur (cagub) yang akan diusung Partai Gerakan …

Silakan Berkomentar