Home JATENG RAYA Warga Brebes Dominasi Kasus Buta Aksara di Jateng

Warga Brebes Dominasi Kasus Buta Aksara di Jateng

0
0
SHARE

ilustrasi
?
MAGELANG – Ratusan ribu warga Jateng masih belum bisa membaca atau buta aksara. Terbanyak ada di Brebes sebanyak 67.517 orang. Jumlah keseluruhan warga buta aksara mencapai 813 ribu lebih.

    “Memprihatinkan memang. Buta huruf identik dengan kemiskinan karena rata-rata mereka tidak sekolah dengan alasan ekonomi,”kata Wakil Gubernur Jateng, Heru Sujatmiko usai upacara hari Aksara Internasional ke 51 tingkat Propinsi Jateng yang dipusatkan di lapangan Drh Soepardi, Sawitan kabupaten Magelang, Kamis (3/11).

    wagub mengatakan, di tingkat nasional, Jateng menduduki peringkat kedua setelah Jatim untuk jumlah warga yang buta aksara. Karenanya perlu upaya bersama berbagai pihak untuk mengurangi angka buta aksara.

    Kabupaten Brebes menempati urutan pertama di Jateng, karena  daerah penghasil telur asin itu memang memiliki jumlah penduduk terbanyak. Sedangkan terendah ada di Salatiga.

    Diharapkan tahun depan akan ada pengurangan jumlah penduduk buta aksara sebanyak 37.674 orang .

    Perempuan buta aksara mencapai 67 persen, dan sisanya laki-laki. “Ini juga terkait masalah kultur,” ungkapnya.

     Penyebabnya karena banyak ang putus sekolah dan  keterbatasan bahan bacaan meskipun tidak signifikan.

    Disebutkan, pengentasan buta aksara merupakan kewenangan dari dinas pendidikan secara teknis. Namun demikian, upaya tersebut tidak bisa dilakukan sendiri oleh dinas, namun diperlukan bantuan dari masyarakat dan relawan.

    Hal itupun menjadi salah satu  permasalahan internal, terkait bagaimana menyemangati petugas dan relawan untuk tidak mengenal menyerah atau telaten dalam upaya pengentasa buta aksara tersebut.

    Petugas dan relawan, kata dia, memiliki tugas yang tidak mudah karena selain harus telaten. 

    Heru menyatakan bahwa sudah sepatutnya  program pengentasan buta aksara ini dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat.

    “Program ini bisa berjalan baik bila di dukung dengan ketelatenan petugas, sarana prasarana memadai, sekaligus adanya anggaran yang cukup,” katanya.

    Karenanya,  dibutuhkan kepedulian dari seluruh strata pemerintahan untuk bisa mensukseskan pengentasan buta aksara ini. Kepala daerah bisa membuat visi misi namun tidak meninggalkan program pembangunan sumber daya manusia. (MJ-24).