Beranda JATENG RAYA Warga Adang Truk Proyek Tol Batang-Semarang

Warga Adang Truk Proyek Tol Batang-Semarang

12
0
BERBAGI
Warga Kendal memblokir jalan tol sebagai protes tertutupnya akses jalan ke kampung. (foto: metrojateng.com/Edi Prayitno)

 

KENDAL – Puluhan warga Desa Sambungsari Kecamatan Weleri Kendal  memblokir jalan tol Batang Semarang Rabu (10/1) siang. Warga memblokade jalan masuk ke proyek pembangunan jalan tol dengan kayu dan membakar ban bekas. Warga juga menghadang truk pengangkut tanah yang hendak masuk ke proyek tol. Warga menuntut dibuatkan akses jalan penghubung antar kampung melewati jalan tol Batang Semarang.

Aksi warga ini awalnya hanya menghadang truk pembawa tanah, yang hendak masuk ke pembangunan jalan tol. Warga kesal karena tiga akses jalan kampung ditutup proyek tol dan tidak dibuatkan akses jalan lain.

Dengan membawa poster warga meminta pelaksana pyoyek tol, membuatkan akses jalan antar kampung ini. Warga juga membakar kertas dan ban bekas ditengah jalan masuk ke proyek tol, hingga sejumlah truk tidak bisa melintas dan terhadang.

Warga juga menyandera truk pengangkut tanah meminta agar dibuatkan minimal satu akses jalan kampung. Menurut warga, sebelum ada proyek tol setidaknya di desa sambungsari ada tiga akses jalan. Namun ketiganya ditutup pelaksana proyek, sehingga warga yang hendak menunju kampung sebelah harus memutar arah hingga dua kilometer. “Padahal akses jalan tersebut menghubungkan ke sekolah, masjid dan pemakaman umum. Kalau harus memutar jauh bias 15 menit,” kata Munandar, warga setempat.

Perwakilan warga kemudian mengadakan pertemuan di balaidesa setempat, untuk mencarikan solusi. Camat Weleri, Marwoto usai pertemuan mengatakan akan diupayakan dibuatkan akses jalan kampung. “Pihak pelaksana merespon dengan akan membuat satu akses jalan untuk warga. Sebelumnya memang ada tiga jalan kampung yang ditutup akan dibuatkan satu oleh pelaksana agar akses warga tidak terganggu,” katanya.

Jalan tol batang semarang yang melintas di Desa Sambungsari sendiri tahap pengurugan tanah, namun masih ada warga yang belum menerima ganti rugi. Rencananya di desa ini sendiri terdapat pintu keluar, sehingga akses jalan kampung warga banyak yang ditutup. (MJ-01)