Warga 5 Desa di Magelang Tolak Penambangan Pasir dengan Alat Berat

demo tambang pasir magelang
Ribuan warga berdemonstrasi di Jurang Jero, menolak penambangan pasir memakai alat berat. (foto: metrojateng.com/ Ch Kurniawati)

 

MAGELANG – Ribuan warga dari lima desa di Kecamatan Srumbung lereng gunung Merapi Kabupaten Magelang, menolak penambangan pasir di Gunung Merapi memakai alat berat. Jumat (9/3) mereka berkumpul di Jurang Jero, menyampaikan penolakan tersebut.

Mereka berasal dari Tegalrandu, Ngargosoka, Mranggen, Bringin dan Srumbung. Ada 27 truk yang mengangkut merekake Jurang Jero, ditambah 15 kendaraan pribadi dan ratusan sepeda motor.

Penolakan terhadap penambangan pasir memakai alat berat ini dilandasi dari kekhawatiran rusaknya sumber air yang digunakan warga untuk bertani. Selain itu, alat berat dipandang dominan area penambangan. Sementara, warga lokal yang menambang pasir dengan alat sederhana semakin terpinggir. Istilah mereka, warga sekitar yang menambang pasir secara manual hanya mengais sisa dari penambangan alat berat.

Ahmad Baharudin Sah, tokoh masyarakat sekaligus tokoh agama setempat mengatakan, penambangan harus dikendalikan. Ia khawatir penambangan merusak saluran irigasi dan sumber air. “Mayoritas masyarakat di Srumbung adalah petani yang mengandalkan hidupnya dari hasil tani. Kalau mata air rusak, maka akan hilang pula mata pencaharian petani,” katanya.

Aksi yang dilakukan warga sudah berkali-kali dilakukan. Sebelumnya, penolakan juga dilakukan oleh warga di Kecamatan Dukun. Surat keberatan dan penolakan atas penambangan memakai alat berat juga telah dilayangkan kepada Kapolda, Kajati dan Gubernur Jateng, hingga Kapolri, KPK, Dirjen BKSDA dan Menteri Lingkungan Hidup.

“Namun keluhan kami minim tanggapan dari pemerintah,” kata Koordinator lapangan KH Ahmad Wahib.

Menurutnya, masyarakat yang menolak penambangan memakai alat berat itu sepakat jika sebaiknya penambangan dilakukan secara manual saja. Karena hal itu bisa meminimalkan kerusakan lingkungan, juga memberikan penghidupan bagi warga sekitar Merapi.

Warga membuat kesepakatan atas nama Masyarakat Peduli Lingkungan Merapi. Antara lain mereka mendorong adanya pelestarian air sebagai sumber kehidupan masyarakat, menolak penambangan dengan menggunakan alat berat dan mendorong adanya penguatan ekonomi kerakyatan.

Mereka kemudian melakukan mujahadahan dengan membaca tahlil dan ayat kursi serta surat Al-Ikhlas dan bacaan lainnya. Hal itu dilakukan upaya terakhir warga yang tidak pernah mendapat tanggapan pemerintah. “Dengan mujahadah, warga mengadu pada Yang Kuasa,” kata Wahib.

Aksi diakhiri dengan membubuhkan tanda tangan pada sebuah baliho besar secara bersama-sama, sebagai wujud penolakan keberadaan alat berat untuk menambang dengan kedok apapun.(MJ-24).

 

 

Aksi warga Srumbung Kabupaten Magelang di Jurang Jero menolak penambangan dengan menggunakan alat berat, Jumat (9/3). (foto: metrojateng.com/ch kurniawati)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

26 − 24 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.