Home > HEADLINE > Wakil Wali Kota Tegal Masuk Jebakan Betmen

Wakil Wali Kota Tegal Masuk Jebakan Betmen

image
Wakil Wali Kota Tegal, Nursholeh.

SEMARANG – Wakil Wali Kota Tegal, Nursholeh, menceritakan perihal utang piutang antara dirinya dan Wali Kota Siti Masitha. Ia mengaku bahwa dirinya telah masuk jebakan betmen.

Diwawancara wartawan usai menghadap Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Senin (6/4), Nursholeh mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak pernah berhutang pada Masitha. Perkara itu muncul karena Masitha tiba-tiba menagih uang Rp 2 miliar kepadanya.

“Tapi fisiknya (uang) tidak ada, tidak pernah ada hutang,” katanya.

Dijelaskannya, bahwa perkara hutang itu bermula dari surat perjanjian biaya pemenangan pencalonan Siti Masitha-Nursholeh menjelang hari H pencoblosan Pilwalkot 2013, tepatnya pada 14 Oktober 2013. Surat itu disodorkan Ketua Tim Sukses Masitha-Nursholeh yang diusung Partai Golkar, Partai NasDem, dan sejumlah partai lain. 

Amir Mirza mengatakan kepada Nursholeh perlunya tambahan biaya pemenangan dan uangnya akan ditanggung dulu oleh Siti Masitha. “Menjelang coblosan saya disuruh tanda-tangan untuk biaya bersama. Katanya untuk menambah biaya kampanye, serangan fajar dan sebagainya. Saya sempat tanya pengembaliannya bagaimana, katanya nanti dicari solusinya bareng-bareng,” tutur Nursholeh.

Ternyata Siti Masitha mempersoalkan biaya pemenangan tersebut. Ia menganggap Nursholeh berhutang kepadanya sehingga harus mengembalikan. Keduanya bertemu pada 12 Januari 2015 pukul 10.00 di ruang kerja wali kota.

Pertemuan itu tidak mencapai kata sepakat karena beda persepsi dalam memandang biaya pemenangan itu. “Saya sudah bilang untuk mencari solusi bersama seperti yang dulu dikatakan. Tapi bu wali kota tetap ngotot itu hutang. Akhirnya dealock,” katanya.

Mulai saat itu, Siti Masitha tidak lagi berkomunikasi dengan wakilnya. Ketua DPD Golkar Kota Tegal ini merasa tidak pernah dianggap karena tak lagi ada pembagian tugas. “Saya dianggap tidak ada,” ujarnya.

Nursholeh pun merasa telah masuk jebak betmen. Ia yang tidak merasa punya hutang, kini harus mengakui berhutang dan harus mengembalikan. “Iya seperti itulah, seperti dijebak karena surat itu,” ujarnya.

Seluruh cerita itu, lanjut Nursholeh sdah disampaikan kepada Gubernur Ganjar ketika menghadap, Senin (6/4) sore. Nursholeh telah menyampaikan dalam bentuk tertulis ditambah 7 laporan lisan selama satu jam di ruang kerja Ganjar di Gubernuran.

“Sudah saya sampaikan semua kepada Bapak Gubernur. Beliau akan mengkaji laporan saya,” katanya. (Byo)

Ini Menarik!

DPC PKB Buka Posko Pengaduan Pelanggaran Seleksi Perangkat Desa

Share this on WhatsApp  KENDAL – Untuk mengantisipasi kecurangan dalam tes seleksi perangkat desa Kabupaten …

Silakan Berkomentar