Tujuh Bulan, Difteri Renggut Empat Nyawa

SEMARANG – Pihak Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi menyatakan terdapat empat pasien suspect virus difteri yang meninggal dunia dalam rentang waktu tujuh bulan terakhir. Seorang dokter spesialis anak dari bangsal anak RSUP dr Kariadi, drHapsari, SpA (K) mengatakan, keempat pasiennya yang meninggal dunia itu antara lain, tiga orang dari Semarang dan satu dari Temanggung.

Antrean orangtua yang akan mengimunisasi anaknya di Balai RW III Genuksari. Foto: fariz fardianto

“Ini jumlah kasusnya meningkat lagi. Padahal, pas Desember 2017 kemarin sudah agak berhenti. Tetapi ketika masuk di bulan Juni, temuannya malah semakin banyak,” tuturnya, Jumat (20/7).

Ia melanjutkan pada Juni ada seorang pasien positif difteri asal Tembalang Semarang. Ketika itu, si pasien dirujuk dalam kondisi leher membengkak. Setelah dirawat inap, pasiennya itu mengalami sumbatan napas, gangguan jantung, gagal tnafas hingga ditemukan toksin atau racun yang berasal dari kuman.

“Saat diperiksa ternyata benar. Dia mengalami gangguan jantung. Kemudian membrannya menutup sehingga harus dilubangi saluran napasnya. Setelah dua hari dirawat dalam ruangan HCU, nyawanya tidak tertolong lagi. Hasil diagnosis dia menderita penyakit difteri,” ungkapnya.

Pasien difteri lainnya datang dari Genuksari dalam kondisi kritis. Saat dirujuk ke RSUP Dr Kariadi, BN, nama pasien dari Genuksari itu denyut jantungnya sudah dibantu dengan alat medis. Tetapi, sebaran racun dari kuman difteri sudah masuk ke dalam ginjal. BN dinyatakan meninggal pukul 16.55 WIB kemarin. “Meninggalnya di HCU,”.

Dua pasien lainnya masing-masing berinisial A yang berasal dari Ketileng Tembalang, dan Temanggung. Kondisi yang dialami keduanya pun sama dengan dua pasien sebelumnya.

Hapsari menjelaskan bila keempat pasien itu meninggal di ruang UGD dan HCU.

“Sejak Desember 2017 sampai Juli 2018 sudah ada 23 pasien positif difteri yang dirawat di sini. Ini menunjukan gejala peningkatan yang signifikan sehingga kami memerlukan ruang rawat yang lebih memadai untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan jumlah pasien difteri pada bulan-bulan ke depan,” tandasnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 55 = 58

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.