Transformasi Kandri: Dulu Sepi, Sekarang Banyak Tempat Selfie

MENYEBUT nama Kelurahan Kandri, ingatan orang pasti tertuju pada destinasi wisata Goa Kreo. Bukan tujuan wisata baru. Dulu, tempat ini tidak begitu ramai dikunjungi wisatawan. Merupakan hutan dan goa yang dihuni kera-kera.

desa wisata kandri
Deretan homestay di Kandri. (foto: Fariz Fardianto)

Namun Kandri kini, jauh berbeda dengan Kandri yang dulu. Berkat kejelian muda-mudi dan warga setempat dalam menangkap peluang pasar, Kandri menjadi desa wisata menarik, dengan potensi pangan lokal. Tak ketinggalan, beberapa spot foto yang instagramable ada di desa ini.

Berlokasi di RT 05/RW III, Kampung Talunkacang, Kandri. Deretan rumah-rumah warga kini mulai berubah. Warga membenahi rumah-rumah mereka.

“Sekarang di kampung kami sudah banyak yang membuka homestay. Sebab, warga melihat adanya peluang usaha setelah wisata spot foto awan resmi dibuka untuk umum Agustus tahun lalu,” ungkap Muhammad Taufik, warga RT 05/RW III, Kampung Talunkacang, Kandri.

Taufik bilang jumlah homestay di kampungnya saat ini bertambah. Kreativitas masyarakat pun terus berkembang. “Ini semata-mata biar warga tidak kerja lagi di pabrik,” katanya. Kini, tak sedikit warga yang membuka warung makanan. Mewadahi kebutuhan pelancong saat mampir ke kampungnya.

Taufik sendiri merupakan satu dari sekian banyak pemuda kampung setempat yang giat mempromosikan keunggulan wisata Kandri. Melalui sebuah gawai, Taufik kerap mengunggah spot awan yang dibangun di rumah-rumah warga.

desa wisata kandri
Spot foto tema awan, lengkap dengan asesoris tambahan yang disediakan pengelola. (foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto)

“Ini awan buatan yang berasal dari bahan semacam busa. Jika sewaktu-waktu kotor, bisa diganti yang baru. Spot awan sudah menjadi jujukan favorit wisatawan selain Goa Kreo,” ujar pemuda berusia 26 tahun tersebut.

Terdapat dua anjungan dari bambu yang menyediakan spot berfoto tema awan. Di foto, akan tampak seperti di atas awan sungguhan, kendati itu adalah awan buatan. Obyek yang terlihat pun cukup menyegarkan mata. Beberapa pasang anak muda tak canggung berfoto dengan latar belakang perairan Waduk Jatibarang yang jernih.

spot foto kandri
Spot foto awan di Kandri. (foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto)

“Saban hari ada 100 pengunjung. Kalau akhir pekan juga tetap ramai,” kata Taufik. Selain spot awan, warga juga membangun destinasi lainnya macam spot balon udara, spot salju, spot rumah balon, spot musim panas dan ayunan.

“Jumlah destinasinya ada tujuh titik,” lanjutnya.

Taufik mengatakan untuk beberapa jepretan foto spot awan, pengunjung dikenai biaya bervariasi mulai Rp 5.000-Rp 100 ribu. Untuk menambah daya tarik, ia juga menyediakan ragam aksesoris tambahan untuk berswafoto macam untaian bunga maupun baju kimono.

Sejak diresmikan lima bulan terakhir, ia mengaku puas dengan capaian saat ini. Setidaknya spot awan mampu booming sebagai wisata instagramable di Kota Lumpia. “Dalam waktu dekat kami akan bikin lagi spot wisata malam dengan memadukan pencahayaan spot lampu diatas waduk,” ujarnya.

Ia cukup mengapresiasi dukungan penuh yang diberikan Pemkot Semarang. Nantinya Walikota Hendrar Prihadi akan membuat gedung kesenian dan air mancur di dekat Talunkacang.

“Spot awan sekarang bersaing dengan Kreo. Kami tidak menyangka dengan modal awal usaha membuat spot awan Rp 15 juta ternyata dampaknya bisa sepopuler ini,”. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

6 + = 14

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.