Tolak NKRI, Empat Napiter Kedungpane Tak Dapat Remisi Lebaran

SEMARANG – Sebanyak empat narapidana kasus terorisme (napiter) yang menghuni Lapas Klas IA Kedungpane, Ngaliyan, Semarang dipastikan tidak mendapat masa potongan tahanan (remisi) pada momentum Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah. Musababnya, mereka menolak segala bentuk deradikalisasi untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Proses penyerahan alat salat dan Alquran bagi narapidana lansia dan mualaf di Kedungpane. Foto: fariz fardianto

Humas Lapas Kedungpane Semarang Fajar Sodiq, mengatakan keempat napiter yang tidak mendapat remisi Lebaran itu atas nama, Arif Arih Basuki, Tony Anggara, Rohadi serta seorang napiter pindahan dari Lapas Pekalongan yang bernama Rudiyanto.

“Kondisi ini sangat kami sayangkan, sebab mereka memang sikapnya radikal. Selain menolak tawaran justice collaborator yang kami ajukan untuk memerangi tindak pidana terorisme, sikapnya juga menentang konsep NKRI. Maka, ketika Lebaran tahun ini mereka dihukum tidak mendapat remisi,” ungkap Fajar, Selasa (12/6).

Fajar mengungkapkan para napiter itu telah mendekam di tahanan Kedungpane dengan hukuman bervariasi. Ada yang belasan tahun, tambahnya, ada pula yang puluhan tahun.

Namun, khusus untuk napiter bernama Rudiyanto baru saja menghuni Lapas Kedungpane lantaran dipindah dari Pekalongan pasca-peristiwa banjir rob yang menerjang wilayah tersebut akhir bulan lalu.

“Yang Rudiyanto ini barusan dipindah Kedungpane. Tetapi sikapnya sangat keras. Jadinya dia tidak kita beri remisi,” paparnya.

Diluar nama itu, menurutnya masih ada dua napiter lainnya yang tidak mendapat remisi. Mereka merupakan tahanan kasus Bom Bali I yang divonis penjara seumur hidup oleh pengadilan.

“Yang dua lagi sudah menghuni Lapas Kedungpane sejak 10 tahun terakhir. Sempat ngajuin grasi ke presiden tapi sampai sekarang enggak dapat jawaban,” cetusnya.

Secara keseluruhan, pihaknya sedang menyusun nama-nama narapidana yang akan diajukan mendapat remisi kepada Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Persetujuan remisi akan diteken Kemenkumham tepat saat perayaan Idul Fitri 1439 Hijriyah yang jatuh pada Jumat (15/6) nanti. “Nanti silakan Jumat pagi kalau mau mengekspos penyerahan remisi setelah salat Ied,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan selama Ramadan, pihaknya rutin menggelar pesantren kilat yang diikuti 83 narapidana. Bertempat di Masjid At Taubah dalam lapas, napidana dibekali ilmu keagamaan seperti tauhid dan keimanan, fiqih, dakwah, diskusi, motivasi, dzikir, taklim, sampai khataman Alquran.

Untuk memperdalam ketaqwaan, narapidana juga diberi siraman rohami untuk mengenal jati diri manusia, ahlaqul karimah.

Pihaknya juga memberi uang pembinaan, sertifikat, piaham bagi 10 peserta pesantren kilat terbaik ditambah seperangkat alat salat dan Alquran bagi narapidana lansia serta mualaf.

“Kegiatan ini bermaksud untuk memperkuat iman dan mental WBP yang nantinya sebagai bekal untuk berkecimpung kembali ke tengah masyarakat,” ujar Fajar. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

45 − = 43

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.