Terjerat Hutang Ijon, Nelayan Kendal Tak Ikut Lelang di TPI

image
Ilustrasi

KENDAL – Nelayan Bandengan Kota Kendal enggan melakukan lelang penjualan hasil tangkapan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) setempat karena terjerat dengan perusahaan yang membelinya secara ijon. Nelayan terpaksa menjual ke perusahaan karena sudah berhutang terlebih dahulu untuk bekal melaut, sehingga hasil tangkapan harus dijual ke perusahaan yang memberi hutang.

Selain terjerat dengan sistem ijon, nelayan tidak mau menjual ikan di TPI karena banyak preman yang bermain di TPI sehingga hasil lelangan tidak maksimal. “Nelayan kapal besar memang sudah terjerat ijon sehingga harus menjual ke perusahaan dan tidak di TPI. Tidak hanya soal ijon saja kenapa TPI Bandengan sepi, nelayan mengeluhkan banyak preman saat proses lelang,” jelas Abdul Rosyid nelayan Bandengan.

Kapal besar di Bandengan sendiri jumlahnya sekitar 20 kapal, sedangkan kapal kecil mencapai  700 perahu. Bendahara DPC HNSI Kendal, Rohini menjelaskan untuk sekali melaut sedikitnya dibutuhkan biaya Rp 250 untuk pembelian bahan bakar solar. Sebab solar yang dibutuhkan sekali melaut berkisar antara 40-60 liter solar. 

“Sementara dengan hasil tangkap ikan yang minim, para nelayan merugi. Hasil tangkap ikan saat dileang tidak sesuai sepadan untuk memberi menggaji rekan dan menutup modal bahan bakar,” katanya.

Dalam kondisi normal, nelayan bisa mendapatkan 2-3 kwintal ikan. Tapi selama dua pekan terakhir para nelayan hanya mendapatkan kurang dari satu kwintal. Sehingga hasil tangkapannya sedikit tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan. Diperkirakan nelayan akan kembali melaut saat memasuki musim penghujan, karena pada saat tersebut justru cuaca tengah laut kembali normal.

Sementara itu, ratusan perahu nelayan Bandengan juga tertambat di dermaga karena tidak melaut. Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Kendal, Zaenal Arifin kondisi nelayan sepi tersebut tidak hanya dialami nelayan Bandengan saja, tapi juga nelayan di sepanjang pantai utara jawa (Pantura) Kendal. “Musim seperti ini memang teri nasi dan udang itu minim, jadi banyak perahu kecil tidak melaut,” ujarnya.

Di Bandengan sendiri ada sekitar 700 perahu kecil yang bersandar, karena para nelayannya enggan melaut. Satu perahu kecil biasanya di operasikan lima orang, itu artinya ada sekitar 3.500 nelayan yang kehilangan mata pencaharian dari melaut.

“Jika tidak melaut, biasanya mereka kerja serabutan untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Sebab, profesi nelayan sekarang ini memang sudah tidak bisa diharapkan lagi. Jadi nelayan hanya jadi pekerjaan sampingan saja,” tandasnya.

Saat ini yang berani melaut hanyalah kapal besar saja yang bermuat 15-20 orang. Sedangkan kapal-kapal kecil hampir seluruhnya bersandar. “Kapal besar disini ada sekitar 20 kapal, tapi yang melaut paling hanya separuhnya saja,” paparnya. (MJ-01)

dprd kota semarang
Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 67 = 72

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.