Beranda KRIMINAL & HUKUM Solo, Zona Merah Peredaran Narkotika

Solo, Zona Merah Peredaran Narkotika

21
0
BERBAGI
Kabid Brantas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, Suprinarto. (foto: metrosemarang.com/ Efendi)
SEMARANG – Solo merupakan kota yang menjadi zona merah peredaran narkotika terutama sabu. Hal tersebut diungkapkan oleh Kabid Brantas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, Suprinarto usai mendampingi Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo melakukan rilis akhir tahun di Kantor BNNP Jateng, Jalan Madukoro, Semarang, Rabu (27/12).
“Memang yang kami petakan saat ini dan mungkin juga bisa terjadi kedepannya itu di Solo baru kemudian Semarang,” ujar Suprinarto.
Suprinarto mengatakan, beberapa wilayah lain yang juga rawan terjadi peredaran narkoba yakni Cilacap, Tegal, Banyumas, dan Purbalingga. Sementara jenis narkotika yang paling banyak tersebar di wilayah-wilayah tersebut adalah sabu.
“Paling banyak sabu, tahun ini (2017) baru sekali ganja paling banyak 10 kilogram, itu November kemarin di Solo, kemudian juga tembakau gorilla, tapi memang yang mendominasi sabu,” imbuh Suprinarto.
Sementara, di Kota Semarang sendiri sabu memang mendominasi kasus tindak peredaran narkotika sepanjang 2017. Hal tersebut diungkapkan oleh Kasatresnarkoba Polrestabes Semarang, AKBP Sidiq Hanafi saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.
“Dari kasus yang kami tangani sebagian besar memang sabu,” ujar Sidiq Hanafi.
Hanafi mengatakan, dalam kurun waktu satu tahun terakhir pihaknya berhasil mengungkap kasus peredaran narkoba di wilayah Polrestabes Semarang sebanyak 195 kasus. Dari jumlah tersebut 186 diantaranya merupakan kasus peredaran narkotika seperti sabu, ekstasi, dan ganja. Sedangkan 9 lainnya merupakan kasus peredaran obat-obatan berbahaya atau golongan G.
“Yang kasus sabu mencapai hampir 95% sendiri, barang bukti sabu selama setahun ada 782,169 gram,” kata Hanafi.
Sedangkan pesatnya peredaran sabu menurut Hanafi dipicu oleh masuknya barang haram tersebut ke berbagai lini profesi masyarakat Kota Semarang. Sabu kini tidak hanya dikonsumsi oleh pengguna dengan latar belakang ekonomi menengah ke atas. (fen)