Sistem Zonasi Sekolah Dinilai Merugikan Siswa Berprestasi

BANYUMAS – Situasi ketegangan terjadi di beberapa SMP negeri favorit di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, usai penutupan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Rabu (4/7). Bahkan, beberapa orang tua yang mendatangi kantor panitia PPDB salah satu SMP di Purwokerto terlihat marah-marah.

Ketegangan terjadi saat penutupan PPDB di salah satu SMP di Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Bahkan, sejumlah calon siswa terlihat menangis karena tersingkir dalam daftar siswa diterima. Rabu (4/7). Foto: metrojateng.com

Salah satu orang tua calon siswa, Joko Setyo (45) warga warga Desa Karanggintung Kecamatan Sumbang, yang mendaftarkan anaknya di SMP Negeri 2 Purwokerto, mengaku sangat kecewa dengan sistem zonasi yang diterapkan saat ini. Apalagi, dia menyatakan anaknya memiliki nilai USBN (Ujian Sekolah Bertaraf Nasional) 262 yang tergolong tinggi dalam hasil USBN (Ujian Sekolah Bertaraf Nasional) 2018 di Banyumas.

“Tempat tinggal saya masih dalam radius terdekat dengan sekolah, sepanjang 6 kilometer, yang ditetapkan dalam sistem penerimaan siswa baru tahun 2018. Nilai anak saya juga tinggi, 262 tapi masih juga tidak diterima. Sistem ini sungguh merugikan, saya sekarang tidak tahu anak saya akan sekolah dimana,” katanya.

Joko menambahkan, meski ada pendaftaran gelombang dua dalam PPDB tahun ini. Namun, dia tidak yakin bisa diterima karena semua SMP Negeri yang berada di radius 6 km dari rumahnya sudah terpenuhi kuota anak didiknya.

“Kalau mendaftar di sekolah swasta mungkin masih bisa. Tapi, saya ingin anak saya masuk di sekolah negeri yang favorit,” imbuhnya.

“Anak saya tersingkir karena kuota SMP Negeri 2 sudah terpenuhi oleh calon siswa yang domisilinya berjarak di bawah 2 km dari lokasi sekolah. Dengan demikian, siswa yang domisilinya berjarak 2-4 km dari sekolah, otomatis tersingkir. Meski pun dalam aturan PPDB tahun 2018 ini, masuk dalam zonasi terdekat sekolah,” jelasnya.

Kondisi serupa juga terjadi di SMP Negeri 5 Purwokerto. Berdasarkan data, jumlah siswa yang mendaftar sekolah ini mencapai lebih dari 400 siswa. Namun, karena kuota sekolah yang diterima melalui sistem zonasi hanya sekitar 200 siswa, maka ada 200 siswa yang tersingkir.

Sistem PPDB tahun ini hampir sepenuhnya menerapkan sistem zonasi, sesuai Petunjuk Teknis PPDB SMP 2018 yang ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan Banyumas Purwadi Santosa.

Berdasarkan juknis tersebut, siswa yang diterima melalui sistem zonasi jarak terdekat sekolah ditetapkan 90 persen dari kuota siswa baru sekolah. Sedangkan jarak terdekat zonasi, ditetapkan sejauh 6 km untuk sekolah yang berada di wilayah Kota Purwokerto, dan 10 km untuk sekolah yang berada di luar Purwokerto.

Berdasarkan sistem ini, maka sebanyak 90 persen kuota siswa baru diterima berdasarkan jarak terdekat dari lokasi sekolah. Dengan demikian, semakin dekat domisili calon siswa dengan sekolah, makin besar peluang calon siswa tersebut untuk diterima.

Nilai hasil USBN, sama sekali tidak menjadi bahan pertimbangan dalam penerimaan PPDB. Di luar 90 persen kuota siswa yang diterima melalui sistem zonasi, dalam Juknis itu juga disediakan kuota sebesar 5 persen untuk siswa baru yang diterima melalui jalur prestasi. Sedangkan sisanya sebesar 5 persen, diterima melalui jalur kemaslahatan. (MJ-27)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

− 2 = 5

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.