Sistem Zonasi Sekolah Dikeluhkan Wali Murid di Solo

SOLO – Penerapan sistem zonasi pada SD dan SMP mulai tahun ajaran 2018/2019 di Kota Solo menuai banyak protes dari wali murid. Pasalnya hingga kini anaknya belum mendapat sekolah, padahal Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) online sudah ditutup.

Pendaftaran siswa baru di SMPN 3 Solo, Senin (9/7). Foto: metrojateng.com

Seperti yang dikeluhkan oleh Abdul Nasir, warga Tegalharjo, Jebres, Solo secara keras memprotes pelaksanaan zonasi sekolah ini dirasa tak adil. Pasalnya siswa yang berprestasi justru kalah dengan siswa yang memiliki nilai rendah.

Selain itu, kuota yang diperuntukkan untuk wilayahnya sudah habis. Ia terpaksa mencari sekolah ke zona lainya yang letaknya jauh dari tempat tinggalnya.

“Kita ini hanya seperti kelinci percobaan, yang diombang-ambingkan oleh peraturan. Hingga detik ini peraturan zonasi sekolah itu tak jelas. Dan ini terpaksa harus ke zonasi lain karena sekolahnya kekurangan murid. Keponakan saya tidak bisa sekolah hanya karena statusnya family di KK (Kartu Keluarga.red), padahal ia sudah empat tahun tinggal dan menjadi warga Solo,” ujarnya saat mendaftar di SMP 3 Solo, Senin (9/7).

Hal yang serupa juga dirasakan oleh wali murid yang berasal dari luar Kota Solo. Ika (37), warga Wonerejo, Karanganyar ini mengaku susah mencari sekolah untuk anaknya. Padahal jarak rumahnya lebih dekat dengan Kota Solo daripada ke Kabupaten Karanganyar.  Sedangkan kuota siswa dari luar kota terbatas.

“Ini kan jadi merepotkan, padahal rumah saya dengan Karanganyar itu lebih jauh daripada di Solo. Sebelumnya anak saya SD-nya di Solo juga. Kalau harus sekolah di Karanganyar kasihan anaknya,” jelasnya.

Ia berharap kebijakan sistem zonasi sekolah bisa dievaluasi kembali, terlebih pendaftaran peserta didik baru secara offline digelar hingga tanggal 24 Juli 2018.

Hal ini bertolak belakang dengan ketersediaan kuota SMP di Solo. Dimana beberapa hari menjelang penutupan pendaftaran pada tanggal 14 Juli mendatang terdapat 12 SMP di Solo yang masih mengalami kekurangan murid.

Adanya sistem zonasi mengakibatkan ketidakmerataan pendaftar calon siswa. Seperti SMPN 3 Surakarta, dari kuota 232 siswa, baru terseleksi 110 siswa. Di SMPN 10 Surakarta, dari kuota 149 siswa, sudah terseleksi 107 siswa. Dan di SMPN 26 Surakarta, baru terseleksi 32 siswa dari kuota 169 siswa. (MJ-25)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

51 − 41 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.