Beranda JATENG RAYA EKONOMI BISNIS Sertifikasi Perajin Batik Jadi Prioritas Bekraf

Sertifikasi Perajin Batik Jadi Prioritas Bekraf

64
0
bekraf di semarang
Para perajin batik hadir dalam pembukaan sertifikasi profesi batik yang difasilitasi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan dilaksanakan Lembaga Sertifikasi Profesi Batik di Hotel Grand Edge Semarang, Selasa (13/3) malam. (Foto: metrojateng.com/Anggun Puspita)

SEMARANG – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memprioritaskan fasilitas untuk sumber daya manusia (SDM) di bidang batik. Hal itu dilakukan bersama Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dengan menggelar sertifikasi bagi perajin batik.

Direktur Harmonisasi Regulasi dan Standarisasi Bekraf, Sabartua Tampubolon mengatakan, ada 16 subsektor di Bekraf tapi tidak semua difasilitasi untuk sertifikasi. Sebab, pihaknya hanya akan memfasilitasi jika ada permintaan dari komunitas atau lembaga sertifikasi.

“Batik adalah salah satu subsektor kriya yang paling banyak kami fasilitasi. Semua itu berangkat baik dari Bekraf dan LSP Batik,” ungkapnya saat membuka kegiatan sertifikasi profesi batik di Hotel Grand Edge Semarang, Selasa (13/3) malam.

Pada tahun ini fasilitasi sertifikasi profesi batik oleh Bekraf dan LSP Batik sudah digelar di empat kota di antaranya Jambi, Brebes, Banyuwangi, dan Semarang. Untuk di Semarang ada 100 perajin batik yang mengikuti sertifikasi.

Sabartua menyampaikan, pihaknya sedang mengembangkan sistem informasi profesi ekonomi kreatif. “Kami akan menyajikan data subsektor yang sudah kami fasilitasi. Batik masih lebih banyak dibanding sektor lainnya. Dari 16 yang baru bisa kami fasilitasi yaitu kriya atau batik, kuliner dari barista, dan ke depan fotografi karena permintaan untuk sertifikasi di sektor tersebut juga banyak,” jelasnya.

Sementara itu, dari tahun 2015 hingga sekarang ada 7.000 perajin batik yang sudah bersertifikasi. Ketua LSP Batik, Subagyo mengatakan, tren tersebut menggembirakan karena tidak hanya generasi lama saja yang ikut sertifikasi, tapi juga perajin batik yang muda-muda turut terlibat.

“Artinya, ada kesinambungan untuk melestarikan batik. Kami pun menargetkan setiap tahun ada 2.000 perajin yang ikut sertifikasi,” katanya. Adapun, pada proses sertifikasi ada tiga hal yang dinilai yaitu keterampilan, pengetahuan, dan sikap. (ang)