Home > JATENG RAYA > Sepenggal Perjuangan Zulfikar Lepaskan Diri dari Pengaruh ‘Pil Setan’

Sepenggal Perjuangan Zulfikar Lepaskan Diri dari Pengaruh ‘Pil Setan’

KEDUA tangan Zulfikar cekatan saat meraih canting di dalam wajan. Peluh yang membasahi dahinya tak menyurutkan semangatnya untuk menggoreskan motif-motif batik pada selembar kain putih.

Fikar, sapaannya telah menggeluti kerajinan batik sejak setahun terakhir. Teman-temannya di Rumah Damping Astama jadi saksi atas ketekunannya belajar membatik.

“Saya tertarik membatik karena awanya memang senang menggambar. Makanya, sejak beberapa tahun belakangan masuk tempat ini, saya lebih fokus menekuni seni membatik. Dan saya bersyukur kegiatan semacam itu bisa menghilangkan ketergantungan mengonsumsi putaw,” kata Fikar kepada metrosemarang.com, Selasa (15/8).

Diakuinya masuk ke rumah damping atas dorongan diri sendiri. Didasari rasa jenuh dan berdosa selama memakai putaw, ia kemudian memutuskan menjalani rehabilitasi di panti rehabilitasi tersebut.

“Saya emang pengin kemari. Saya kemudian menjalani rehabilitasi selama 50 hari. Sebab, selama make empat tahun rasanya jenuh banget, berdosa sama keluarga, barang itu menimbulkan banyak masalah. Saya benar-benar ingin sembuh,” terangnya.

Menurutnya tantangannya saat pertama kali masuk rumah damping sangat berat. Seminggu pertama ia harus ekstra keras melakukan penyesuaian. Setelah memasuki pekan ketiga, bayang-bayang memakai putaw seperti empat tahun lalu kembali menghantuinya.

“Kalau pas ketagihan, kepala saya nyeri seperti migrain. Tetapi lambat laun dengan dukungan rekan-rekan untuk menjauhi putaw ditambah tahap penyembuhan yang dilakukan tim pendamping BNN, pelan-pelan saya bisa bangkit dan pulih lagi,” katanya.

Setelah itu, hari-harinya ia habiskan dengan membatik. Hasil karyanya ia jual kembali ke kantor BNN maupun di kafe yang menyatu dengan bangunan rumah damping. “Sekalian sosialisasi sama masyarakat kalau mantan pecandu bisa menghasilkan karya layak jual,” beber warga Jalan Sukowati 40 A Salatiga itu.

Ia berharap karyanya bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Jika sudah kembali ke rumahnya, ia ingin membuka usaha sablon dan batik agar mendapat penghasilan.

“Saya kepengin menebus kesalahan yang pernah diperbuat yang dulu. Saya juga memohon ampunan kepada Tuhan untuk tidak lagi menyentuh narkoba,” katanya mantap.

Harapan serupa juga muncul dari pihak BNNP Jateng. Igor Budi Mardiono, Kabid Rehabilitasi BNNP Jateng menganggap program pasca-rehabilitasi di rumah damping Astama sangat efektif membantu mantan pengguna untuk memulihkan diri sekaligus kembali kepada masyarakat.

“Karena kami punya banyak pelatihan kewirausahaan. Ya semoga mereka kembali pulih dan produktif lagi,” ujar Igor. (Fariz Fardianto)

Ini Menarik!

Tingkatkan Produksi Pangan, Butuh Dukungan Sarpras

Share this on WhatsAppKENDAL – Ketersediaan beras di Kendal mengalami fluktuasi. Tahun 2013 sebesar 133.770 …

Silakan Berkomentar