Beranda JATENG RAYA Sembilan Hari Tanpa Suaminya, Nur Aini Belum Percaya

Sembilan Hari Tanpa Suaminya, Nur Aini Belum Percaya

466
0
BERBAGI
Nur Aini di samping foto pernikahannya dengan Deni Setiawan, pengemudi taksi online korban pembunuhan. (foto: metrojateng.com/Efendi)
SEMARANG РSembilan hari setelah kepergian Deni Setiawan (32), Nur Aini masih belum bisa mempercayai nasibnya. Kesehariannya bersama suaminya selama tiga tuhun harus berakhir dengan hal yang tidak wajar. Deni tewas dibunuh saat sedang melayani  penumpangnya di Perumahan Bukit Cendana, Sambiroto, Tembalang beberapa waktu lalu.

Saat disambangi di rumahnya, Nur Aini tampak sedang menjamu tamu yang silih beranti berdatangan di rumahnya di Mangunharjo, Kemijen, Semarang Utara sejak kepergian suaminya itu. Mengenakan pakaian dan jilbab warna hitam, ia tampak menahan air matanya tatkala membahas perihal apa saja tentang suaminya.

Di mata Nur, Deni merupakan sosok seorang lelaki yang penyayang. Hal kecil yang paling berkesan menurut dia adalah ketika Deni makan ia selalu mendapatkan satu atau dua suap dari tangan Deni.

“Almarhum Deni itu sudah seperti tangan dan kaki saya, sejak kami menikah pokoknya saya kemana-mana sama dia. Yang paling berkesan di hati saya itu tiap kali dia makan pasti nyuapin saya entah satu atau dua suap,” ujar Nur Aini di rumahnya, Senin (29/1) sore.

Nur Aini dan Deni menikah pada 18 Januari 2015 lalu. Mereka melangsungkan pernikahan setelah menjalani hubungan percintaan jarak jauh Korea-Indonesia. Deni memang sempat bekerja di sebuah pabrik plastik di Korea. Ia merantau di Negeri Gingseng sekitar 7 tahun hingga akhirnya pada awal tahun 2017 Deni memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk dekat dengan keluarganya.

“Dua hari sebelum waktu kejadian itu kita memang merayakan tiga tahun pernikahan kami, ya cuman kecil kecilan. Deni juga sempat bilang gini ‘Mamah mau minta apa mah, apa mau main kemana?,’ gitu, tapi saya jawab nggak usah pa, adik juga kan masih kecil,” kata Nur Aini.

Nur Aini memang baru dikaruniai seorang anak laki-laki setelah dua tahun pernikahannya. Bernama Abrisyam Ustman Nur Setiawan, kini usia anaknya baru menginjak bulan ketiga. Ustman, begitu ia memanggil anaknya, lahir pada 25 Oktober 2017 lalu.

Kini ia dan anak semata wayangnya itu tinggal bersama orang tua Nur Aini. Ia juga masih terlihat meraba untuk menjalani keseharian barunya tanpa sosok seorang suami. Nur Aini memang merasakan perubahan yang sangat besar semenjak di tinggalkan oleh sang suami tercintanya. Deni memang menjadi pria andalan di keluarganya sendiri maupun keluarga Nur Aini.

“Memang mas Deni itu orangnya pinter kalau sama keluarga, sama ibuknya, ibuk saya dia sangat gemati orange, grapyak juga. Bahkan bapak saya itu meskipun punya anak laki-laki juga, namun kalau ada apa-apa justru minta bantuannya ke Deni,” ujar Nur Aini dengan mata berkaca-kaca.

Nur Aini juga bercerita, kisah percintaan antara dia dan almarhum suaminya baru terjalin setelah mereka memasuki dunia kerja. Padahal mereka berdua merupakan teman satu angkatan saat masih bersekolah di SMU Gita Bahari, Semarang. Mereka lulus pada tahun 2003, namun semasa sekolah mereka hanya saling tahu tanpa menjalin hubungan percintaan.

“Dulu saya itu juga nggak begitu dekat dengan mas Deni, hanya sekedar tahu saja. Kami pacaran itu saja pas mas Deni sudah di Korea hingga akhirnya kami menikah itu tahun 2015 mas Deni cuti dari kerjaannya dan kembali ke Indonesia, dan sempat berangkat ke Korea lagi,” imbuh Nur Aini.

Kini Nur Aini hanya bisa berharap, para pelaku yang tega menghabisi nyawa suaminya itu bisa diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka. Ia tak peduli dengan usia para pelaku, pasalnya apa yang telah mereka perbuat menurutnya diluar batas untuk dilakukan oleh seorang anak usia remaja.

“Memang umurnya masih remaja, tapi kelakuan mereka itu sudah bukan anak-anak lagi. Mereka juga memang sudah merencanakan untuk membunuh bukan untuk merampok, tanpa ada perampasan terlebih dahulu, dan dengan tenangnya bilang ‘Saya membunuhnya hanya sekitar 7 menit saja,’ gitu saat rekontruksi kemarin,” beber Nur Aini.

Nur Aini juga bercerita, saat peristiwa pembunuhan terjadi ia baru tahu bahwa suaminya menjadi korban pembunuhan setelah diberi kabar oleh pihak kepolisian keesokan harinya pada Minggu (21/1) lalu. Waktu itu ia tak menyangka bahwa suaminya menjadi korban pembunuhan, awalnya hanya mengira kecelakaan lalu lintas saja.

“Saya itu malemnya sekitar jam 10.00 sudah tak telfon terus sampai pagi. Saya juga ngirim pesan lewat whatsapp juga cuman centang satu, tapi karena saya bingung meskipun handphone almarhum tidak aktif tetap saya telfon terus sampai keesokan harinya ada polisi datang ke rumah bahwa di temukan mayat dengan ciri-ciri seperti suami saya dan saya diminta untuk datang ke rumah sakit,” kata Nur Aini.

Nur Aini memang tak merasakan firasat akan kehilangan suaminya. Namun hal berbeda yang dilakukan oleh suaminya di saat-saat terakhir itu ialah pada saat selesai salat berjamaah di masjid setempat Deni biasanya hanya bersalaman dengan orang di samping kanan dan kiri saja.

“Namun pagi itu dia salaman dengan semua jamaah solat subuh di masjid setelah melaksanakan salat. Ya sekarang saya hanya bisa berharap untuk para pelaku dihukum sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat, karena mereka juga telah merebut kebahagiaan bagi anak saya, anak saya sudah tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, saya juga bingung apa yang harus saya katakan nanti ketika anak saya sudah bisa berbicara dan menanyankan keberadaan tentang ayahnya,” pungkas Nur Aini sembari menahan untuk tidak meneteskan air matanya.

Untuk diketahui, Deni merupakan seorang driver taksi online yang tewas dibunuh oleh penumpangnya yang masih berusia belasan tahun. Ia dibunuh oleh IBR (16) dan DIR (15) di daerah Sambiroto dan jasadnya dibuang di sebuah persimpangan di Perumahan Bukit Cendana, Sambiroto, Tembalang pada Sabtu (20/1) lalu. (fen)