Beranda JATENG RAYA EKONOMI BISNIS Sembako Mahal, Pesanan Kue Keranjang Merosot

Sembako Mahal, Pesanan Kue Keranjang Merosot

41
0
BERBAGI
Kue keranjang. (foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto)

SEMARANG – Memasuki Tahun Anjing menjadi momentum yang sulit bagi sebagian masyarakat Thionghoa di Kota Semarang. Musababnya, harga kebutuha  pokok yang terus melejit telah mengakibatkan penjualan makanan khas Imlek menurun dibanding tahun lalu.

Salah satu dampaknya dirasakan pembuat kue keranjang yang berlokasi di Kampung Kentangan Tengah, RT 03/RW V, Kecamatan Semarang Tengah. Saat ditemui metrosemarang.com pada Rabu siang (7/2), Ong Eng Hwat, seorang pembuat kue keranjang mengeluhkan mahalnya harga ragam bahan baku utama kue keranjang.

Menurut Ong, harga beras ketan kini melonjak 100 persen menjadi Rp 25 ribu dari kondisi normal hanya berkutat pada angka Rp 14 ribu per kilogram. “Naiknya sampai 100 persen. Ini membuat pesanan kue keranjang menurun cukup signifikan,” kata Ong di sela pembuatan kue keranjang.

Proses pembuatan kue keranjang. (foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto)

Padahal Ong bilang kue keranjang merupakan makanan wajib saat Imlek tiba. Kue keranjang yang dibuat dari bahan-bahan tepung ketan, beras, panili, gula tersebut sarat filosofi budaya Thionghoa.

Rasa manis dan lengket dalam setiap gigitan kue tersebut mengandung makna mempererat rasa persaudaraan. “Tapi untuk Imlek tahun ini cenderung sepi karena semuanya serba mahal,” terangnya.

Menjelang Imlek 2018, dirinya sudah mendapat pesanan sejak sepekan terakhir. Saban hari Ong membuat kurang lebih 100 kue keranjang.

Kue keranjang buatannya dikenal kaya rasa. Ong menyebut pelanggan bisa memilih kue keranjang rasa panili, cokelat, prambors, pandan dan kacang. “Dan ada rasa durian juga,”.

Sebuah kue keranjang dijual seharga Rp 5.300-Rp 5.500. “Kalau tahun ini permintaan paling banyak dari pelanggan asal Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Solo dan beberapa daerah sekitar Semarang. Mereka suka pesan kemari karena kue keranjang saya tanpa bahan pengawet. Jadi yang makan biar tetap sehat,” bebernya.

Ong sendiri menjadi generasi ketiga penerus usaha kue keranjang. Ia mendapatkan resep kue keranjang dari warisan sang nenek. Usahanya sudah dimulai sejak 60 tahun silam.

Ia mengaku masih mempertahankan pembuatan kue keranjang memakai tungku kayu bakar. “Saya masih mempertahankan pembuatan secara tradisional karena ini resep warisan nenek dan sudah berjalan tiga generasi,” ungkapnya.

Walau begitu, diakuinya pula bahwa proses regenerasi usaha kue keranjang terancam terhambat menyusul keengganan anaknya untuk meneruskan bisnisnya.

“Saya rasa anak saya enggak mau meneruskan pembuatan kue keranjang. Sebab selain butuh kesabaran, proses pembuatannya juga sangat lama mulai mengaduk adonan sejak Subuh sampai jadi pukul 22.00 WIB malam,” ujar Ong. (far)