Ribuan Warga Antusias Saksikan Karnaval Dugderan Sambut Ramadan

SEMARANG – Ribuan warga memadati halaman balai kota hingga sepanjang rute Karnaval Dugderan 2018 yang digelar oleh Pemerintah Kota Semarang, Selasa (15/5). Mereka antusias mengikuti tradisi tahunan masyarakat Semarang menyambut datangnya bulan puasa tersebut.

Wali Kota Hendi naik kereta bendi saat prosesi Dugderan menyambut bulan suci Ramadan 1439 Hijriah. Foto: masrukhin abduh

Dimulai upacara di balai kota yang dipimpin Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang berperan sebagai Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat, pencetus kegiatan Dugderan di Semarang, ratusan peserta karnaval dilepas dengan ditandai penabuhan bedug oleh walikota. Diiringi dengan atraksi drum band dari Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang.

Kemudian secara berurutan, diikuti perwakilan dari 16 kecamatan, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai komunitas, hingga barongsai, dan tidak ketinggalan Warak Ngendog, hewan imajiner yang menjadi ikon Kota Semarang.

Setelah itu, Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, beserta istri, serta Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti dan suami menyusul dengan kereta kencana diiringi bendi yang dinaiki jajaran muspida.

Kali ini, yang menjadi pembeda dari tahun-tahun sebelumnya, rombongan kereta kuda dan bendi yang dinaiki rombongan pejabat itu dikawal oleh pasukan berkuda yang dipimpin langsung oleh Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji yang berkuda putih.

Rute Karnaval Dugderan yakni dari Balai Kota Semarang, Jalan Pemuda, hingga Jalan Kolonel Sugiyono, kemudian menuju Masjid Agung Semarang atau biasa disebut Masjid Kauman.

Di Masjid Kauman, Wali Kota Hendi menerima suhuf halaqah dari ulama, kemudian membacakannya di hadapan masyarakat Kota Semarang. Kemudian dilakukan pemukulan bedug di Masjid Kauman yang diiringi bunyi dentuman seperti meriam yang merupakan cikal bakal nama Dugderan, yakni dari bunyi “dug” bedug dan “der” bunyi meriam.

Selain itu, dilakukan pula pembagian air khataman Alquran dan ribuan kue ganjel rel, makanan khas Semarang kepada masyarakat yang filosofinya menghilangkan sesuatu yang mengganjal di hati.

Rombongan bergerak ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) untuk penyerahan suhuf halaqah kepada Gubernur Jateng, diwakili Sekda Jateng Sri Puryono yang berperan sebagai Raden Mas Tumenggung Probohadikusumo.

Di MAJT Semarang, dilakukan pula prosesi yang hampir sama, yakni pembacaan suhuf halaqah oleh Raden Mas Tumenggung Probohadikusumo kepada masyarakat Jateng yang sebentar lagi memasuki bulan puasa.

‘’Kegiatan Dugderan sudah dimulai oleh Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat sejak 1881, sebagai acara menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Kami mengelar kegiatan ini sebagai bukti bahwa masyarakat Kota Semarang tidak melupakan sejarah leluhur dan terus melestarikannya,’’ kata Hendi.

Kegiatan Dugderan ini disebutkan memiliki nilai-nilai filosofis yang tinggi. Di antaranya mewujudkan rasa guyub rukun, persatuan dan kesatuan masyarakat.

‘’Ini harus terus dilestarikan, masyarakat harus guyub rukun menjunjung persatuan dan kesatuan bangsa,’’ terangnya.

Dia menegaskan, persatuan warga Kota Semarang sudah tidak bisa dibantahkan. Masyarakat Semarang sudah terbiasa dengan gotong royong dan toleransi.

‘’Maka wajar jika Kementerian Agama memberikan penghargaan kepada Kota Semarang, sebagai kota yang berpartisipasi aktif membina kerukunan agama. Selain itu, banyak pula penghargaan-penghargaan lain yang diterima kota ini,’’ katanya.

Dugderan ini juga sebagai wujud persatuan antara pemimpin dan masyarakat. Dalam kegiatan itu, terbukti jika pemimpin dan rakyat dapat saling bersilaturahmi, bersatu, tidak ada jarak antara keduanya. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 8 = 18

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.