Rektor Dituding Menjiplak Karya Ilmiah, Ini Tanggapan Unnes

SEMARANG – Kabar dugaan plagiasi karya ilmiah yang dilakukan Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Dr. Fathur Rohkman, M.Hum sempat ramai di media sosial dan portal berita online. Terlebih lagi, kabar tersebut muncul seiring akan dilakukannya Pemilihan Rektor baru di Unnes.

Konferensi Pers Jalur Seleksi Mandiri Unnes, Senin (2/7). Unnes menampik tudingan plagiasi yang dialamatkan kepada Rektor Prof Fathur Rohkman. Foto: ade lukmono

Kahumas Unnes, Hendi Pratama mengatakan, sampai saat ini belum ada langkah-langkah penyelidikan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang, seperti Irjen, Kementerian dan lainnya, Selain itu, belum ada laporan masyarakat secara resmi dari kasus tersebut.

“Kami menyebutnya hanya spekulasi. Di berita yang sudah telanjur ramai tesebut hanya tersaji data dan dugaan-dugaan. Tentu kami menyanyangkan karena belum ada pihak berwenang yang melakukan investigasi tapi dari kabar tersebut dibuat seolah-olah sudah terjadi praktik plagiasi,” ungkapnya, Senin (2/7).

Dia menambahkan, menentukan sebuah tulisan adalah sebuah karya plagiasi tidak bisa dilakukan sembarangan. Perlu adanya investigasi yang mendalam yang dilakukan pihak berwenang.

Pihak Unnes akan segera melakukan klarifikasi terhadap pembuat berita tersebut agar berimbang. Hendi menilai berita yang sudah dibacanya tersebut belum melakukan cover both side.

Sebelumnya, beredar kabar bahwa karya ilmiah Fathur Rohkman berjudul “Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas” yang terbit tahun 2004 adalah hasil plagiasi dari karya ilmiah Anif Rida yang berjudul “Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas” yang terbit pada tahun 2003. Di tulisan keduanya, terdapat banyak kesamaan di beberapa halaman serta beberapa tabel yang identik.

Perihal isu tersebut dilakukan untuk menyulitkan pencalonan Fathur sebagai Rektor, Hendi enggan berkomentar banyak. “Saya tidak bisa berkomentar. Hanya saja waktunya memang pas,” ungkapnya. (ade)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

− 2 = 3

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.