Punya Rumah Dua Lantai, Tiga Pemegang SKTM SMA 4 Semarang Dicoret

SEMARANG – Tiga Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang diajukan oleh calon siswa yang mendaftar dalam pendaftaran peserta didik baru (PPDB) di SMA Negeri 4 Semarang, dicoret. Musababnya, tim investigasi dari SMA Negeri 4 yang mengecek langsung memergoki orangtua siswa tersebut memiliki sejumlah perabotan mewah di rumahnya.

Wiji Eny Ngudirahayu, Kepala SMA Negeri 4 Semarang, saat mengecek berkas-berkas PPDB yang masuk ke sekolahnya. Foto: fariz fardianto

“Hasil home visit sudah kita lakukan sejak dua hari kemarin dan rampung tadi malam. Setelah ditelusuri ke pemegang SKTM. Dari 14 pemegang SKTM yang mengajukan pendaftaran ke sekolah kita, ada tiga orang yang tidak layak mendapat SKTM,” ungkap Wiji Eny Ngudirahayu, Kepala SMA Negeri 4 Banyumanik, saat ditemui wartawan di sekolahannya, Jalan Karangrejo Raya, Srondol Wetan Semarang, Jumat siang (6/7).

Ketiga pemegang SKTM itu diketahui tinggal di Jalan Kepodang Selatan III, Banyumanik, kemudian Jalan Waru Timur Dalam I, Kelurahan Pedalangan dan terakhir di Jalan Karangrejo Jatingaleh.

Ketika mendatangi rumah pemegang SKTM di Jalan Kepodang, ia mengaku mendapati rumah yang bersangkutan tergolong bagus. Rumah itu milik mereka sendiri. Kemudian yang bersangkutan juga tepergok punya lebih dari satu sepeda motor.

“Orangtua siswa itu ternyata bukan termasuk warga miskin. Karena punya pekerjaan sebagai pemasok bahan bangunan. Kondisi rumahnya sangat bagus. Perabotannya dari kayu jati semua,” ujar Eny.

Temuan lainnya, katanya, si anak yang dibiayai tinggal satu orang. Ia mengklaim tak tahu alasan mereka mengapa punya niatan mendaftarkan anaknya menggunakan SKTM.

Di Jalan Waru Timur dan Karangrejo, pihaknya menemukan orangtua calon siswa termasuk warga kategori mampu karena memiliki rumah berlantai dua, serta dilengkapi perabotan televisi plasma dan almari es.

Ia menjelaskan sempat melayani ketiga pemegang SKTM tersebut. Namun, dari hasil verifikasi, pengajuan SKTM milik tiga siswa itu akhirnya dibatalkan. “Mereka tidak layak menggunakan SKTM. Mereka tetap boleh mendaftar, tapi SKTM mereka akhirnya tidak disertakan karena harus dibatalkan. Karena kami berpikir lebih banyak siswa miskin yang membutuhkannya ketimbang mereka,” akunya.

Tim investigasi yang diterjunkan oleh SMA Negeri 4 berjumlah empat. Satu tim investigasi beranggotakan masing-masing dua orang.

SMA Negeri 4, tambahnya selama ini punya kriteria khusus bagi pemegang SKTM yang bisa diterima di sekolahnya. Ia menyebut pemegang SKTM seharusnya punya rumah tak layak huni, berlantai tanah dengan dilapisi tembok dari papan. “Home visit kami sudah selesai bekerja dan saat ini tinggal memonitor jalannya PPDB di hari terakhir,” cetusnya.

Untuk saat ini pelayanan PPDB sudah selesai sejak pukul 15.00 WIB tadi. Saban hari rata-rata yang mendaftar ada sebanyak 323 siswa.

Dalam pelaksanaan PPDB 2018, pihaknya menyediakan kuota miskin minimal 20 persen. Ia menargetkan mampu menjaring 396 siswa baru ada tahun ini. Mencakup 72 siswa baru jurusan IPS dan 324 siswa baru jurusan IPA.

“Kita masih menunggu pendaftaran selesai dan sekarang masih dimonitor. Di sini berlaku penerimaan siswa sesuai zonasi satu dan zonasi dua diluar kecamatan. Sejauh ini anteng, tidak ada yang komplain orangtua yang tidak diterima di SMA Negeri 4,” ucapnya.

Dengan skema pembebasan nilai siswa untuk masuk ke sekolah negeri, ia memperkirakan jumlah siswa miskin tahun ini bakal membludak. “Dibanding tahun kemarin, sekarang pasti meningkat. Makanya kita monitor terus,” tandasnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

− 9 = 1

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.