Polres Magelang Bawa Tersangka Pengedar Narkoba ke Depan Pelajar SD-SMA

Kapolres Magelang AKBP Krisnanto Yoga Darmawan saat gelar perkara di Mall Artos Magelang, Senin (26/2). Gelar perkara kasus di mall baru pertama kali di Magelang dan di Jateng. (foto: metrojateng.com/ ch kurniawati)

 

MAGELANG – Polres Magelang Kota menggelar perkara peredaran obat keras jenis Y atau Tryhexyphenidyl di mal Artos, Senin (26/2). Pada saat yang bersamaan sedang berlangsung lomba polisi cilik, yang diikuti ratusan siswa dari tingkat SD hingga SMA.

“Jadi biar generasi penerus ini melihat. Salah satu penjual obat-obatan keras yang kemungkinan juga dikonsumsi anak-anak. Kita tidak pernah tahu penyebarannya sampai kemana saja,” kata Kapolres Magelang Kota, AKBP Krisnanto Yoga Darmawan, saat gelar perkara.

Kapolres berharap, dengan para pelajar melihat tersangka, maka mereka tidak akan meniru apa yang sudah diperbuat. “Tentu kita persiapkan dengan matang soal keamanan untuk mendatangkan tersangka kesini. Reskrim dan Sabhara yang melakukan pengamanan,” kata kapolres.

Kapolres mengklaim, gelar perkara di mal baru pertama kali ini diadakan di Jawa tengah. Sebelumnya, gelar perkara selalu diadakan di markas komando polres atau mapolres. “Ya kita ini kan polisi ‘jaman now’,” katanya.

Kapolres mengungkapkan, jajarannya bersama dengan Satpol PP berhasil menangkap Bartholomeus Ronny Adi Saputra (25), yang diduga sebagai pengedar obat keras jenis Y, pada Kamis, (22/2) lalu. Dari tangan tersangka, aparat berhasil mengamankan barang bukti sebanyak 1.001 butir pil Y yang siap edar.

Penangkapan pelaku dilakukan saat patroli wilayah dengan sasaran penertiban, pendataan dan pembinaan terhadap pengemis, gelandangan dan orang telantar. Saat tim sedang melakukan penertiban di eks gedung Magelang Theater, mereka mendapati tersangka sedang membawa obat keras berupa tablet berwarna putih dengan logo tulisan Y.

Saat itu, tersangka sedang mengemas pil ke dalam kemasan plastik kecil. Menurut tersangka, ia mendapatkan pil itu dari seseorang di Jakarta dengan komunikasi melalui facebook. Setelah terjadi kesepakatan, maka barang dikirim melalui jasa pengiriman dengan resi alamat Jakarta.

Dalam satu bulan ini, ia sudah memesan hingga empat botol dengan harga perbotol Rp 785 ribu. Ia mengemas pil itu dalam bungkus plastik yang kemudian dimasukkan dalam bungkus rokok. Satu bungkus berisi 10 butir  dan dijual dengan harga Rp 20 ribu.

Rata-rata, imbuh pria yang berprofesi sebagai tukang parkir ini, ia bisa menjual 5 bungkus/hari. “Mulanya saya hanya mengonsumsi sendiri,namun lama kelamaan tertarik untuk menjual karena keuntungannya lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Akibat perbuatannya, pelaku bakal dijerat Pasal 198 jo Pasal 98 No 36 tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara atau denda maksimal Rp 1 miliar. (MJ-24)

 

 

 

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 79 = 88

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.