PKL dan Hunian Liar Bugangan dan Mlatiharjo Mulai Dibongkar

SEMARANG – Hunian liar dan pedagang kaki lima (PKL) bantaran Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) di Bugangan dan Mlatiharjo, Kecamatan Gayamsari mulai dibongkar untuk proyek revitalisasi sungai tersebut.

Penertiban bangunan di Bugangan dan Mlatiharjo, Rabu (11/7). Foto: masrukhin abduh

Dinas Perdagangan Kota Semarang mengerahkan alat berat beghoe untuk membongkar bangunan liar tersebut. Pembongkaran dengan pengawalan polsek dan koramil berjalan lancar tanpa perlawanan dari para pedagang.

‘’Seminggu sebelumnya kami sudah buat surat ke pedagang pembongkaran akan dimulai hari ini, kemudian dipersilahkan membongkar sendiri hingga 21 Juli. Pada 23 Juli kami akan pastikan semua bangunan telah rata dengan tanah’’, kata Kepala Dinas Perdagangan, Fajar Purwoto, saat memimpin pembongkaran, Rabu (11/7).

Pembongkaran hari ini hanya 5 bangunan di Bugangan dan 7 di Mlatiharjo. Namun total PKL dan bangunan liar yang harus dibongkar di dua tempat tersebut ada sekitar 400an. Terdiri di Bugangan 84 PKL dan 40 hunian, di Mlatiharjo 200 PKL dan 125 hunian.

‘’Mereka akan bongkar sendiri hingga tanggal 21 Juli. Hari ini pembongkaran tersebut kami awali, dibantu Koramil dan Polsek’’, ujarnya.

Sementara terkait PKL dan hunian liar di Karangtempel, Fajar menambahkan, siang ini para pedagang baru akan dikumpulkan di kantor dinas. Bangunan mereka juga dipastikan akan dibongkar dan dipindahkan ke Pasar Klithikan.

Namun pembongkaran tersebut, masih harus menunggu proses pembangunan di Pasar Klithikan Penggaron selesai. Pavingisasi dan pembangunan shelter di pasar tersebut baru ditargetkan akan selesai pada akhir Agustus.

‘’Pavingisasi dan shleter atau kios sebanyak 80 unit sedang dibangun, sisanya pedagang akan ditaruh di depan. Sebenarnya pedagang tidak masalah (dipindah), cuman ada pihak yang fasilitasi tapi setengah-tengah, sehingga pedagang was-was’’, tegasnya.

Sementara seorang pedagang, Sugiyono mengatakan, terpaksa mau dipindah ke Klitikan karena tidak ada tempat lain untuk berjualan. Meskipun kondisinya tak layak, karena tempatnya terlalu kecil dan aksesnya cukup sulit.

‘’Mau menolak ke Klithikan gimana, karena nggak punya tempat. Ini sementara barang akan dibawa ke rumah dulu, karena kalau disimpan di Klitikan yang belum jadi resiko rusak dan hilang’’, katanya. (duh)

dprd kota semarang
Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

60 − 59 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.