Home > JATENG RAYA > Pilgub Jateng Sepi, Sikap PDIP Sandera Partai Lain

Pilgub Jateng Sepi, Sikap PDIP Sandera Partai Lain

Diskusi pemilihan gubernur Jateng 2018 di Hotel Quest Semarang. (foto: metrosemarang.com/ Fariz Fardianto)

SEMARANG – Sejumlah pihak menyayangkan sepinya kontestasi politik dalam gelaran Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018. Pasalnya, belum adanya rekomendasi dari partai politik (parpol) untuk menetapkan pasangan calon, justru memicu kebingungan ditengah masyarakat.

“Pilgub Jateng paling sepi dibanding daerah lainnya. Bahkan, dibandingkan Pilkada Kaltara dan Papua Barat malah kalah jauh. Apalagi jika dilihat dari gairah Pilgub Jabar dan Jatim yang semakin gayeng,” ungkap Nur Hidayat Sardini, Pengamat Politik dari Universitas Diponegoro (Undip), saat berdiskusi dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Quest Hotel, Jalan Plampitan Semarang, Kamis (30/11).

Ia mengaku resah dengan kondisi ini. Sebab, Jawa Tengah dengan jumlah pemilih mencapai 28 juta jiwa sebenarnya sedang punya gawe besar. KPU, katanya telah menyatakan kesiapan 100 persen untuk melaksanakan Pilgub. Akan tetapi belum ada satupun pasangan calon yang mendeklarasikan diri.

“‘Pengantinnya’ yang enggak jelas. Kita ini kan sedang punya gawe besar tapi grengsengnya di masyarakat belum tampak sama sekali. Akibatnya, warga enggak tahu siapa yang akan dipilih nanti. Kita sedang memikul tanggung jawab besar untuk mengatasi persoalan ini,” kata Nur lagi.

Ia berharap Pilgub Jateng mampu menjadi agenda politik bagi publik. Pihaknya mendorong kepada semua pimpinan parpol maupun penyelenggara pemilu untuk menyosialisasikan tata cara Pilgub Jateng kepada masyarakat di pelosok daerah.

Diharapkan pula seluruh pihak mulai bergerak untuk menggairahkan penyelenggaraan Pilgub Jateng. “Harus ada proses edukasi terus-menerus. Penyelenggara Pilgub kudu memperbanyak forum diskusi agar masyatakat siap menyambut proses kampanye sampai pencoblosan nanti,” jelasnya.

Ia menyebut kondisi saat ini sebagai sebuah ironi. Sebab, semua partai kini merasa tersandera dengan sikap
PDIP sebagai partai pemenang yang memilih mengeluarkan rekomendasi pada detik-detik akhir pendaftaran. Sikap ini mencerminkan pembelajaran demokrasi yang kurang bagus karena menghambat edukasi bagi masyarakat.

“Ini malah menunda proses edukasi bagi warga yang penasaran dengan nama-nama pasangan calon,” cetusnya. Ia menganggap situasi ini menguntungkan Ganjar Pranowo sebagai incumbent. Warga hanya mengingat sosok politikus PDIP itu ketimbang kandidat lainnya.

“Orang-orang pasti realistis dengan melihat figur yang sudah familier ketimbang orang yang baru diperkenalkan dengan waktu yang sangat mepet,” tandasnya. (far)

Ini Menarik!

Gempa 6,9 SR Terasa Sampai Semarang, Warga Berhamburan Keluar Rumah

Share this on WhatsApp SEMARANG – Sejumlah warga Kota Semarang berhamburan keluar rumah setelah gempa …

Silakan Berkomentar