Home > JATENG RAYA > Pesta Dandelion di Candi Arjuna

Pesta Dandelion di Candi Arjuna

Kompleks Candi Arjuna. (foto; jatengprov.go.id)

SUKA meniup bunga dandelion tua? Atau suka memotret biji dandelion yang kabur ditiup angin? Datang saja ke kompleks Percandian Arjuna di dataran tinggi Dieng. Bunga-bunga dandelion banyak dan mudah ditemui di hamparan rumput yang berada di antara candi-candi yang ada di kompleks tersebut.

Tak hanya dandelion muda yang belum bisa pecah jika ditiup. Yang tuapun banyak. Dandelion di kompleks Percandian Arjuna menjadi daya tarik tersendiri para pelancong yang datang ke sana. Sambil berjalan-jalan menapaki sejarah dan arsitektur candi-candi di sana, bermain dandelion bahkan berfoto sambil meniupi dandelion menjadi pilihan para pengunjung.

Ada lima candi di kompleks Percandian Arjuna, yang merupakan peninggalan Mataram Kuno. Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Kelima candi itu memiliki ciri khas masing-masing. Diperkirakan, kelimanya dibangun pada masa yang berbeda. Hal itu dilihat dari bentuk serta ornamen pada setiap candi.

Candi Arjuna diperkirakan dibangun paling awal. Diperkirakan dibangun pada awal abad IX masehi oleh Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno. Masa pembangunan itu ditengarai penemuan prasasti aksara Jawa kuno berangka tahun 731 Caka, atau sekitar 809 Masehi. Merujuk angka tahunnya, prasasti yang disimpan di Galeri Museum Nasional tersebut merupakan prasasti tertua. Karenanya, Candi Arjuna dipercaya sebagai candi tertua di Jawa.

Sementara, Candi Sembadra dibangun paling akhir. Perkiraan itu ditengarai gaya candi, dimana Candi Arjuna kental dengan gaya India. Sedangkan Candi Sembadra sudah memperlihatkan pengaruh lokal.

Selain Candi Semar, keempat candi lain merupakan candi utama yang digunakan sebagai tempat bersembahyang. Candi Arjuna, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra merupakan candi yang dibuat untuk menyembah Dewa Syiwa. Sementara, Candi Srikandi dibangun untuk menyembah trimurti (tiga dewa) yaitu Syiwa, Brahma, dan Wisnu. Ditengarai dari relief ketiga Dewa Trimurti yang terpahat di dinding Candi Srikandi yang letaknya berada persis di sebelah utara Candi Arjuna.

Sedangkan Candi Semar sendiri merupakan candi sarana untuk Candi Arjuna. Candi Sarana digunakan sebagai tempat berkumpul atau menunggu para umat sebelum masuk ke candi utama.

Secara garis besar, keempat candi utama di kompleks ini memiliki ornamen yang sama. Pada setiap candi, dapat ditemukan penil (ornamen pada bagian tangga, seperti pegangan), kala (wajah raksasa tanpa rahang bawah yang terdapat di bagian atas pintu), makara (diletakkan di sisi-sisi pintu dan dipercaya mampu mengusir kejahatan).

Jalatmara (saluran air untuk mengalirkan air dari bagian dalam candi ke salah satu sisi), istadewata (terdapat pada bagian atas candi dan dipercaya sebagai tempat masuknya pada dewa), serta antefik (ornamen yang terdapat di bagian ujung tiap sisi). Di setiap candi, juga dapat ditemukan diksa (jalur bagi umat untuk mengelilingi candi sebelum masuk ke area candi utama).

Jangan mencari arca di kompleks Percandian Arjuna. Jika masuk ke masing-masing candi hanya akan didapati ruang kosong yang sejuk. Tempat arca di dalamnya kosong, sebab sebagian besar arca disimpan di Museum Kailasa yang letaknya di tak jauh dari kompleks candi. Sedangkan sisanya hilang.

 

Sekitar Candi

Candi-candi memang kerap ditemui di dataran tinggi. Seperti Candi Gedongsongo di Kabupaten Semarang, Candi Sukuh dan Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar, serta dataran tinggi lainnya. Hal itu karena dataran tinggi dahulu dipercaya menjadi tempat paling ideal untuk menyampaikan pemujaan kepada penguasa semesta.

Dataran tinggi Dieng sendiri terletak pada 2.093 meter diatas permukaan laut. Itulah mengapa hawa di kawasan ini sangat dingin. Rata-rata suhu di dataran tinggi Dieng pada malam hari berkisar antara 6-12 derajat celcius. Namun di puncak musim kemarau, bisa mencapai nol derajat celcius. Mengunjungi Candi Arjuna siang haripun masih bisa merasakan hawa dingin yang menusuk kulit.

Dataran tinggi dieng memiliki kawasan candi yang sangat luas. Diperkirakan, candi-candi yang terdapat di kawasan ini menempati area 90 hektare. Namun baru sebagian kecil dari candi-candi tersebut sudah selesai direstorasi.

Dari sekian banyak candi yang ditemukan, kompleks Percandian Arjuna sejauh ini merupakan yang terluas. Kurang lebih mencapai satu hektare. Pada luasan tersebutlah ditumbuhi banyak dandelion yang menawan.

Kompleks candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1814 oleh seorang tentara Belanda, Theodorf Van Elf. Saat pertama kali ditemukan, kondisi candi tergenang air telaga. Upaya penyelamatan candi pertama kali dilakukan oleh HC Corneulius yang berkebangsaan Inggris sekitar 40 tahun setelah pertama kali candi ini ditemukan. Usahanya kemudian dilanjutkan oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama J Van Kirnbergens.

Sekitar 200 meter sebelah barat dari Kompleks Percandian Arjuna, terdapat kelompok candi lain. Ditengok dari gaya arsitekturnya, kelompok candi ini diperkirakan dibangun pada masa yang sama dengan Candi Arjuna. Dari reliefnya diketahui candi tersebut merupakan tempat untuk menyembah Dewa Syiwa. Itu adalah kelompok Candi Gatutakaca.

Terdiri dari lima candi, Candi Gatutkaca, Candi Setyaki, Candi Nakula dan Sadewa, serta Candi Gareng dan Petruk. Akan tetapi pada kelompok tersebut hanya tinggal satu candi yang tak lengkap dan satu candi lain yang hanya bagian dasarnya saja.

Kelompok candi lainnya lagi adalah kelompok Dwarawati. Terdiri atas Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari. Namun saat ini dalam kelompok candi ini hanya menyisakan Candi Dwarawati saja yang berdiri di bukit sisi selatan dari kompleks Candi Arjuna.

Satu kompleks candi lagi adalah Candi Bima yang merupakan candi dengan bangunan paling besar di antara candi-candi lainnya di dataran tinggi Dieng. Letaknya yang berdekatan dengan Kawah Sikidang. Konon, Kawah Sikidang adalah kawah candradimuka tempat digemblengnya putra Bima oleh Batara Anggajali yang kemudian dikenal sebagai ksatria sakti mandraguna bernama Gatutkaca.

Kompleks Candi Arjuna biasa digunakan sebagai tempat pelaksanaan Galungan. Selain itu, kompleks ini kadang juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan ruwatan anak gimbal, yakni dengan memotong rambutnya.

Dinas Pariwisata bersama Kelompok Sadar Wisata setempat menggagas Dieng Culture Festival. Pemotongan rambut anak gimbal tersebut ada di puncak perayaan festival. Tak berselang lama dari festival itu, juga biasanya digelar acara Jazz Atas Awan.

Acara ini biasa dilangsungkan pada pertengahan tahun, sekitar bulan Juli atau awal Agustus. Satu hal yang menarik dari acara ini adalah pesta kembang api serta penerbangan lampion yang meriah.

 

Ke Candi Arjuna

Kompleks Percandian Arjuna terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Tidak sulit untuk menemukan lokasi kompleks Percandian Arjuna. Ia berada di dekat garis perbatasan wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Petunjuk jalan menuju lokasi, mudah ditemui di setiap sisi jalan menuju kompleks candi.

Lokasinya berbatasan langsung dengan Desa Dieng Wetan yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Wonosobo. Meski terletak di wilayah Banjarnegara, rute termudah dan terdekat untuk mencapai Dieng adalah dari Kabupaten Wonosobo. Jika naik kendaraan umum, pastikan sampai di Terminal Mendolo Wonosobo sebelum pukul 16.00 WIB supaya tidak kesulitan mendapatkan bus menuju Dieng. Perjalanan dari Wonosobo hingga Dieng memakan waktu sekitar 1 jam.

Tiket masuk Candi Arjuna Rp 5.000 per orang. Namun biasanya pengunjung disarankan membeli tiket terusan Rp 10.000 per orang. Dengan tiket terusan, pengunjung dapat mendatangi Kompleks Candi Arjuna, Sendang Sedayu, Sendang Maerokoco, Dharmasala, serta Kawah Sikidang yang berada tak jauh dari kompleks candi.

Jika ke sana, jangan lupa kenakan jaket, pakaian tebal, dan kupluk atau topi, untuk mengadag hawa dingin. Kentang goreng dan kripik kentang khas Dieng dari kentang berkulit merah adalah penganan yang sayang untuk dilewatkan. Penganan khas lain yang cocok dijadikan oleh-oleh adalah Carica khas Wonosobo dan kripik jamur.

Yang tentu bisa dipamerkan di Instagram adalah foto dandelion terbang dan foto meniup dandelion dengan latar perbukitan serta candi-candi. Foto paling bagus pada pagi hari ketika kabut belum pergi. (*)

Ini Menarik!

1 Sura, Ribuan Warga Kendal Rebutan Nasi Bungkus

KENDAL – Ribuan warga dari sejumlah daerah saling berdesakan dan berebut nasi sura dalam peringatan Haul …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *