Penutupan Hilir Sungai Sringin dan Sungai Tenggang Bikin Banjir Tak Cepat Surut

Banjir di kawasan kaligawe pekan lalu. (foto: metrojateng.com)

 

SEMARANG – Penutupan hilir sungai yaitu Sungai Sringin Lama, Sringin Baru, dan Tenggang diminta dievaluasi karena membuat air menjadi tidak bisa mengalir ke laut saat banjir terjadi di daerah Genuk.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Agung Budi Margono mengatakan, pihaknya sudah meminta masukan dari akademisi. Pembendungan di hilir sungai itu dinilai tidak tepat karena tidak diimbangi pemerintah dengan menyediakan kapasitas pompa yang cukup.

‘’Harusnya ada perhitungan teknis sebelum dilakukan penutupan, berapa debit air banjir yang menggenangi wilayah Genuk dan berapa debit rob air laut. Karena jika terjadi kesalahan dalam penghitungan dampaknya banjir akan lama surut,’’ katanya, Rabu (14/2).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini menuturkan, selain kapasitas pompa jumlah pompa untuk menanggulangi banjir juga kurang. Karenanya dia meminta pemerintah mengevaluasi penutupan itu. Harus ada mekanisme yang lebih tepat agar banjir dan rob di Genuk bisa dikendalikan.

‘’Contoh banjir yang merendam jalan dan beberapa rumah di Genuk beberapa hari lalu sampai saat masih terjadi. Tidak kunjung surutnya banjir itu karena pembendungan hilir 3 sungai di daerah tersebut,’’ tegasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Ruhban Ruzziyatno membahtahnya. Dia mengatakan, penutupan hilir 3 sungai itu justru merupakan langkah tepat. Karena jika ketiga sungai tersebut tidak ditutup maka air laut akan merendam wilayah timur Kota Semarang.

‘’Sekarang itu kami buka sementara dengan catatan kalau elevasi air laut rendah. Kalau elevasinya tinggi maka kami tutup lagi agar tidak masuk. Kalau dibuka permanen, itu justru keliru,’’ tegasnya. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

38 + = 44

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.