Home > JATENG RAYA > Pengungsi Afganistan Menggelandang 8 Hari di Semarang

Pengungsi Afganistan Menggelandang 8 Hari di Semarang

Mohammad Husein dan keluarganya di pinggir Jalan Hanoman Raya Semarang Barat. (foto: metrosemarang.com/Fariz Fardianto)

SEMARANG – Satu keluarga pengungsi dari Afganistan menggelandang di jalanan Kota Semarang selama 8 hari. Terdiri dari pasangan suami istri Mohammad Husein dan Qudsiah, beserta tiga anaknya. Dua diantaranya bernama Ali Khisoh dan Ilyas. Selasa (7/11) mereka didapati berada di pinggir Jalan Hanoman Raya, Krapyak, Semarang Barat. Tempat itu tak jauh dari Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang.

Pihak Rudenim menyatakan terpaksa memulangkan keluarga tersebut ke kamp pengungsian yang ada di Bogor Jawa Barat. Pasalnya keluarga ini tidak mempunyai izin resmi dari UNHCR, badan PBB yang mengurus tentang pengungsian. Selain itu, daya tampung Rudenim tak mencukupi untuk menampung mereka.

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rudenim Semarang Dwi Afando Farid, mengatakan pihaknya memiliki 60 unit kamar. Sementara, kini jumlah penghuninya telah mencapai 120 orang. Menurutnya, keberadaan pengungsi itu justru membebani pihaknya yang selama ini kerepotan mengurus ratusan pengungsi dari berbagai negara.

“Maka dari itu, kami tidak bisa menerima Husein dan keluarganya yang berasal dari Afganistan,” kata Dwi saat memproses pemulangan pengungsi asal Afganistan tersebut. Ia menuding pengungsi yang meminta suaka kerap memanfaatkan empati petugas dengan mengajukan berbagai permintaan yang tak masuk akal.

Dwi juga menyebut keberadaan pengungsi kerap dijadikan modus kejahatan oleh oknum-oknum tertentu untuk mengirimkan pengungsi secara ilegal. Untuk saat ini, pilihannya adalah “memulangkan” keluarga pengungsi tersebut ke Bogor agar situasinya terkendali.

Diketahui, selama delapan hari keluarga pengungsi Afganistan tersebut hidup dengan mengandalkan belas kasihan warga yang tinggal di Kampung Krapyak RW IX. Rudenim tidak ingin dicap buruk oleh masyarakat karena tidak mau menampung keluarga pengungsi tersebut.

“Ketimbang kondisinya tidak menentu, kami pulangkan mereka ke Bogor. Tentu kami tidak lepas tangan dan tetap memberi mereka uang saku biar bisa naik bus sampai ke Bogor,” bebernya. Pihaknya berharap Husein dan keluarganya bisa berkumpul dengan ribuan pengungsi lainnya sembari menunggu penerbitan surat resmi dari UNHCR.

Mohammad Raziq, seorang penghuni Rudenim merasa terenyuh dengan apa yang menimpa pada keluarga Husein. Raziq mengaku lebih beruntung ketimbang mereka. Ia sudah ditampung di Rudenim selama dua bulan terakhir.

Ia yang tak bisa berbuat banyak hanya mampu memberi dukungan moril supaya keluarga pengungsi itu tabah menghadapi kesusahan yang dialami selama ini. “Kasihan mereka, tidak ada makanan dan uang. Saya hanya bisa memberikan dukungan moril seadanya saja,” kata Raziq. (far)

Ini Menarik!

Menikmati Desa dari Bangunan Kolonial Hotel Garuda

Share this on WhatsApp   BERADA tak jauh dari Gunung Telomoyo, Hotel Garuda yang merupakan …

Silakan Berkomentar