Home > JATENG RAYA > EKONOMI BISNIS > Pengrajin Yongsua Lokal Kembang Kempis Saingan dengan Produk Impor

Pengrajin Yongsua Lokal Kembang Kempis Saingan dengan Produk Impor

Yongsua lokal masih diproduksi secara manual meski harus bersaing produk impor.

DEMAK – Suparno,56, warga Desa Waru RT 4 RW 6 Kecamatan Mranggen masih mempertahankan usahanya dalam memproduksi yongsua. Meski saat ini, produksinya harus mati-matian melawan produk impor.

Yongsua atau nama lain hio acap sangat akrab dengan warga keturunan tionghoa untuk beribadah saat perayaan hari besar, termasuk Imlek dan tahun baru China. Bentuknya seperti lidi dengan berbagai ukuran, jika disulut akan mengeluarkan aroma khas.

Kemampuan Suparno diperoleh dari pengalamannya menjadi buruh di rumah produksi yongsua di Semarang pada tahun 1977 silam. Sepuluh tahun kemudian, dia pindah ke perusahaan yang sama di Surabaya. Saat itu, dia membawa serta anakanya, Sugi,26, untuk bekerja, padahal baru lulus SD.

“Saya memang lama menjadi buruh di perusahaan rumahan yang memproduksi yongsua. Dari Semarang sampai pindah ke Surabaya,” kata Suparno, Minggu (22/1/2017).

Sekitar tahun 1993, papar dia, mulai mengembangkan yongsua di kampung halamannya. Dibantu anak dan istrinya, Sunarti. Usaha yongsua yang dikembangkannya ternyata cukup memantik warga yang lain. Setidaknya ada lima perusahaan rumahan yongsua di desanya saat itu.

“Karena memang permintaan cukup banyak. Sehingga usaha pembuatan yongsua cukup menguntungkan,” tuturnya.

Selain piawai membuat yongsua, Suparno juga menguasai manajemen marketing, yang dia dapatkan dari selama menjadi Buruh di Semarang dan Surabaya.

“Akhirnya kami mendapat permintaan Dari Semarang. Saat itu, menuruti permintaan dari Semarang saja saya kuwalahan. Dalam satu hari bisa mengirim lima ribu biji lebih,” lanjutnya.

Dia membeberkan, yongsua sendiri terbuat dari campuran gerajin (kayu lembut), lem perekat, bambu dan minyak wangi.

“Kalau bambu jenis petung, pelekatnya namanya kayu lengket yang terbuat dari pohon di Kalimantan yang biasa disebut glamor. Sedangkan minyaknya macam-macam tapi yang dipakai yasmin,” tambahnya.

Namun, sejak memasuki tahun 2000, banyak yongsua produk luar negeri masuk ke Indonesia dan menggerus produk lokal. Permintaan pun mulai berkurang. Bahkan, dari lima produksi rumahan gulung tikar, tinggal satu yakni milik Suparno.

“Kembang kempis usaha yongsua, mulai masuknya impor,” keluh dia.

Dia mengklaim produk lokal sebenarnya lebih murah. Yongsua yang tebal satu batang dijual seharga Rp 350, sedangkan yang tipis dijual per kilo Rp 13 ribu. Yongsua impor bisa didapat seharga Rp 500 hingga 15 ribu.

Terpisah, Kepala Desa Waru, Arifin menjelaskan lima tahun lalu setidaknya ada lima pengusaha pembuat yongsua yang berdiri di wilayahnya.

“Kini tinggal satu milik pak Parno ini, yang lain banyak yang tutup, karena bangkrut, bahkan mungkin di Demak usaha ini satu-satunya,” pungkasnya.(MJ-23)

Ini Menarik!

Pemkab Kampar Pelajari Kawasan Industri di Kendal

Share this on WhatsApp  KENDAL – Keberhasilan Kabupaten Kendal mendirikan kawasan industri berskala besar menarik …

Silakan Berkomentar