Pelaku Penyerangan Gereja St Lidwina Sosok Terkucil di Pondok

Ponpes Sirajul Muhlasin di Payaman kecamatan Secang Kabupaten Magelang, tempat Suliono pernah nyantri. (foto: metrojateng.com/ch kurniawati)

 

MAGELANG  –  Suliono, pelaku penyerangan Pastor Karl-Edmund Prier SJ atau Romo Priers, dikenal sebagai santri yang sering berbicara tentang jihad. Karena itu, semasa nyantri di Pondok Pesantren Sirajul Muhlasin, Krincing Secang Kabupaten Magelang, ia dikucilkan oleh kawan-kawannya. Sebab ajaran yang dibicarakannya itu tidak sesuai dengan ajaran pondok.

Akhirnya ia dikeluarkan dari pondok, karena tidak disiplin. Ia seringkali melanggar peraturan yang sudah ditetapkan. Ia sering membolos dan jarang mengaji. “Tidak pernah menaati tata tertib serta jarang mengaji seperti jadwal yang sudah di terapkan di pondok,” kata Kepala Madrasah Ponpes Sirajul Muhlasin, Ustadz Hanafi di Payaman, Secang, Kabupaten Magelang, Senin (12/2).

Suliono dikeluarkan dari pondok sejak tiga bulan lalu. Tepatnya tanggal 3 Desember 2017. Sebelumnya, ia sudah menempuh pendidikan di ponpes Sirojul Muhlasin selama 2 tahun sejak 2015. Memasuki kelas 3, sesuai aturan di ponpes,  para santri dipindahkan ke ponpes Sirojul Muhlasin yang ada di Payaman. Terhitung sejak Juli 2017, Suliono pindah ke Ponpes Sirojul Muhlasin di Payaman yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Krincing Secang. “Namun baru sekitar lima bulan di Payaman, Suliono dikeluarkan karena sering tidak mengikuti tata tertib,” kata Hanafi.

Menurut Hanafi, dalam menjalankan kehidupannya di pondok, Suliono tampak biasa saja. Tidak menunjukkan perilaku yang aneh. “Hanya saja ia dikucilkan teman-temannya karena sering berkata kepada teman-temannya, tentang jihad yang ia peroleh di Palu,” kata Hanafi.

Sebelum masuk Sirajul Muhlasin, Suliono diketahui pernah sekolah dan kuliah di Palu. “Kita tidak tahu dia dapat doktrin apa di Palu,” katanya. Suliono juga sering kedapatan melihat video dan buku tentang jihad.

Ponpes Sirajul Muhlasin di Krincing kecamatan Secang Kabupaten Magelang, tempat Suliono pernah nyantri. (foto: metrojateng.com/ch kurniawati)

 

Kembali ke Pondok

Setelah dikeluarkan, Suliono sempat kembali ke pondok untuk mengambil barang-barang yang masih tertinggal. Di Ponpes sendiri, Suliono masuk bagian ndalem atau ikut membantu ponpes di bagian laundry.

Saat datang, menurut Hanafi, Suliono sempat ditanya oleh teman-temannya kenapa masih disini, padahal sudah dikeluarkan. Saat itu Suliono menjawab akan mencari pekerjaan di rumah ibu angkatnya di Yogjakarta.

Atas peristiwa penyerangan itu, Hanafi mengaku kaget dan tidak menyangka sama sekali. Ia tahu ada peristiwa itu setelah didatangi intel Polda Jateng. Petugas menanyakan tentang Suliono. “Saat itu saya tidak tahu Suliono. Namun setelah di diperlihatakan video, saya baru paham bahwa orang itu adalah Abdul Hadi.

Dikatakan Hanafi, di ponpes ada semacam tradisi, bahwa setiap santri yang masuk masih bernama Jawa atau nasional, maka minta diganti dengan nama yang lebih Islami. “Suliono minta ganti dengan nama Abdul Hadi,” ungkap Hanafi. Penggantian nama juga tidak pernah di paksa oleh pihak ponpes. Itu karena rata-rata santri mulai memahami akan pentingnya nama.

Hanafi sangat menyayangkan perilaku Suliono yang bisa mencemarkan nama baik pondok. Pasalnya, Pondok Pesantren Sirodjul Muhlasin telah berdiri sesak 105 tahun lalu, dan baru kali ini dikaitkan dengan kejadian seperti itu.Setelah peristiwa itu, maka sebagai pimpinan madrasah ia berinisiatif akan melakukan seleksi lebih ketat terhadap santri yang akan masuk ponpes.

Diketahui, penyerangan yang dilakukan Suliono terjadi saat misa dilaksanakan di gereja Santa Lidwina Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2) lalu. Romo dan beberapa jemaat mengalami luka. Pelaku berhasil dilumpuhkan dengan timah panas oleh petugas. Saat ini Suliono masih dirawat di rumah sakit. (MJ-24).

 

 

 

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

14 − = 4

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.