Passion Itu Saya Temukan Tanpa Sengaja

Riri, Sale s Executive Whiz Hotel Pemuda Semarang

JARUM jam menunjukan pukul 10.00 WIB. Perbincangan soal isu terhangat hari itu ditingkahi celoteh ringan sudah memenuhi ruang redaksi Metrosemarang.com. Lalu seorang rekan muncul dan berkata, “Ada tamu.”

Seorang perempuan muda berperawakan mungil kemudian menyapa hangat. Melontarkan senyum dan mengulurkan tangan. “Riri,“ ujarnya dengan tetap tersenyum. Ia bernama lengkap Riyanti, memperkenalkan diri sebagai Sales Executive Hotel Whiz di Kota Semarang. Perkenalan berlanjut pada pembicaraan tentang profil tempat kerja kami masing-masing.

Riri di Kantor Metrosemarang.com. (foto: metrosemarang.com/Efendi)

 

Tak lama. Sesi itu segera disusul dengan obrolan santai kami dengan Riri. Perempuan periang dan ramah, begitu kesan yang menarik perhatian kami. “Saya itu hobi banget ngomong,” katanya. Percakapan kami mulai mengalir mengikuti perjalanan perempuan muda ini menemukan passion.

Memiliki ibu yang berprofesi sebagai ahli gizi, ternyata tidak membuat Riri tertarik pada dunia kesehatan. “Dulu sempet dipaksa ngelanjutin sekolah bidan. Cuma saya nggak mau,” ungkapnya.

Selepas SMA di Kendal dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah beauty and therapy di Jakarta. Itu setara dengan pendidikan D1. Anatomi tubuh manusia menjadi pelajaran sehari-hari bagi Riri. Kala itu ia berharap akan menjadi terapis yang mumpuni.

Kakinya terus melangkah dan pengalaman hidup terus bertambah. Riri akhirnya bekerja di salah satu perusahaan Amerika. Layanan maternity spa dan baby spa pertama di Indonesia. Karena kepiawaiannya, Riri dipindahkan ke cabang baru di Bali.

Tapi bakat lain dalam dirinya mulai tercium oleh Managing Director perusahaan itu. “Mereka melihat potensi saya. Kok lebih ke ngoceh daripada memberikan treatment,” kisahnya.

Riri kemudian ditawari posisi menjadi humas di perusahaan tersebut. Ia tak menyianyiakannya. Riri bekerja sambil memeras ilmu baru di Bali. Itu berlangsung dari tahun 2013-2015. Sampai akhirnya muncul keinginannya untuk pulang dari perantauan.

“Sempat galau,” ujarnya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri kegalaunannya dan merajut karir di tempat yang tidak asing baginya.

Semarang menjadi pilihan Riri. Alasannya adalah, kota besar di Jawa Tengah ini tak jauh dari Kendal, tempat kelahiran Riri, 24 tahun lalu. Bermodal pengalamannya sebagai humas di Bali, di Semarang Riri memulai karir barunya sebagai marketing komunikasi pada pusat hiburan ternama di jantung kota.

Beberapa tahun bertahan di sana, Riri mulai merasa canggung menjalani pekerjaan yang mengharuskannya bertemu dengan dunia malam. Riri kemudian membuat keputusan tegas atas dirinya. Ia beranjak menemukan pekerjaan baru yang ia jalani hingga kini.

“Karena banyak relasi dari hotel, jadi ditawari kerja di beberapa hotel. Saya pilih hotel Whiz dengan berbagai pertimbangan,” katanya. Dunia perhotelan adalah babak baru bagi karir Riri.

“Untuk awal saya nggak mau muluk-muluk. Karena saya tidak ada basic ataupun sekolah di bagian perhotelan. saya pilih Hotel Whiz yang berbintang 2+ ini justru karena saya ingin belajar. Kalau di hotel-hotel besar saya nggak akan belajar banyak sebagai pemula,” tutur Riri dengan riang. Ia menunjukkan kesukaannya berbicara kepada kami.

“Misalnya begini. Di hotel besar, sales executive mungkin dibagi dalam beberapa tim. Kalau di Whiz beda. Sales seperti saya merangkap marketing. Semua segmentasi dari corporate, mulai dari travel agen itu ya kami yang pegang. Di dalam hotelpun kami masih belajar sistem. Enaknya kalo di hotel budget, saya bisa bikin plan sendiri, lalu jalankan,” beber Riri.

Layaknya orang jatuh cinta, Riri mencintai dunia barunya. Ia menjalani tanpa beban. “Dibawa happy,” begitu katanya.

“Ketemu banyak orang dan mendapatkan ilmu yang beda setiap hari membuat saya bahagia. Di dunia baru ini saya lebih bisa berinteraksi dengan lingkungan sosial. Juga lebih aware dengan lingkungan sekitar. Lebih percaya diri untuk ngomong ke orang,” ujar Riri.

Kira-kira, apa ya kiat sukses Riri?

Kata Riri, untuk yang mau memulai bekerja di bidang public relation, satu kiat kunci darinya adalah harus suka dengan pekerjaan yang akan dijalani lebih dulu. “Menurut saya sih harus suka dulu. Percaya diri, dan nggak pernah bosen belajar. Bagi saya ini pekerjaan yang membuat saya happy banget,” tutup Riri.

(Fitria Eka)

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

87 − 80 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.