Home > JATENG RAYA > Pasien Sakit Jiwa di RSJ Berkurang

Pasien Sakit Jiwa di RSJ Berkurang

Jajaran karyawan RSJ Prof Dr Soerojo saat memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada Selasa, (10/10). (foto: metrojateng.com/ch kurniawati)

MAGELANG – Pasien sakit jiwa yang di rawat inap di RSJ Prof Dr Soerojo semakin berkurang. Dari 584 tempat tidur yang ada, yang terpakai hanya 50-60 persen saja. Jumlah itu untuk pasien gangguan jiwa dan non jiwa.

Pihak rumah sakit menyatakan, hal itu seiring dengan kesadaran masyarakat untuk merawat di tengah-tengah keluarga. “Untuk pasien non jiwa kita alokasikan sebanyak 15 persen dari kapasitas yang ada,” terang dr Nur Dwi Esthi, Direktur Medik dan Keperawatan  RSJ Prof Dr  Soerojo Magelang, di ruang kerjanya, dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa sedunia,  Selasa (10/10).

Nur Dwi mengatakan, data itu menunjukkan kesadaran masyarakat semakin baik. “Masyarakat mau menerima kepulangan pasien gangguan jiwa dan melanjutkan merawat,” kata Nur Dwi.

Sebelumnya, banyak keluarga yang meninggalkan pasien dengan waktu yang relatif lama, bisa 2 hingga 3 bulan. Namun saat ini ada peraturan, pasien gangguan jiwa yang sudah dinyatakan bisa di rawat oleh keluarga, maka harus segera dikembalikan ke keluarga.

Nur Dwi  menjelaskan, pasien dengan gangguan jiwa yang dipulangkan ke keluarga, bisa dirawat di fasilitas kesehatan lain, seperti Puskesmas (faskes I), kemudianfaskes II (RSUD) dan faskes 3 (RSJ). “Untuk yang penyakit parah bisa di rujuk ke RSJ, karena saat ini di faskes I dan II sudah disediakan obat untuk pasien gangguan jiwa,” terangnya.

Faktor penyebab seseorang terkena gangguan jiwa menyangkut beberapa hal, seperti faktor psikologi, sosial, kultural, biologi dan spritual. Faktor sosial dan psikologi, mendominasi penyebab seseorang terkena gangguan jiwa.

Hal senada disampaikan Bagian promosi Kesehatan Masyarakat RSJ Prof Dr Soerojo, M Zainal, bahwa tingkat kesadaran masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa untuk dirujuk ke rumah sakit jiwa belakangan ini mulai membaik.

Dulu, selalu ada stigma negatif dari masyarakat, jika ada pasien dengan gangguan jiwa pasti penyebabnya karena di guna-guna. “Sehingga mereka larinya ke dukun atau orang pintar. Baru dibawa ke rumah sakit jiwa setelah keadaan semakin parah,” ujarnya.

Zainal melanjutkan, pihaknya lebih menekankan kegiatan promotif-preventif kepada masyarakat terkait gangguan penyakit jiwa, dengan mengandeng kerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah  melalui  program integrasi kesehatan jiwa di masyarakat.

Menurutnya, mencegah lebih baik dan murah daripada sudah terlanjur parah atau akut. “Kalaus sudah parah dan akut tentu lama di rawat dan butuh biaya yang banyak,” terangnya.

Zainal juga menyatakan gembira, karena penerimaan masyarakat terhadap pasien yang sudah sembuh dari rawat inap di rumah sakit jiwa untuk kebali kembali ke masyarakat semakin baik.

“Dulu kita sering droping pasien ke keluarganya karena tidak segera diambil. Padahal sudah bisa di urus oleh mereka. Sekarang tidak lagi demikian,” katanya. Saat ini prosentase droping hanya 1 persen, dan sudah jauh berkurang karena dulu bisa mencapai 2/3 persen. (MJ-24)

 

Ini Menarik!

Gerindra Bakal Umumkan Cagub Jateng Pekan Depan

Share this on WhatsApp SEMARANG – Nama calon gubernur (cagub) yang akan diusung Partai Gerakan …

Silakan Berkomentar