Home > JATENG RAYA > Pasca Kasus 1,2 Juta Ekstasi, Tata Kelola Lapas Batu Diubah

Pasca Kasus 1,2 Juta Ekstasi, Tata Kelola Lapas Batu Diubah

Kepala Kemenkumham Jateng dan Yogyakarta, Ibnu Chuldun. (foto: metrojateng.com)

SEMARANG – Setelah kasus penyelundupan 1,2 juta butir ekstasi terbongkar, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) menyatakan bakal merubah tata kelola Lapas Batu di Pulau Nusakambangan Cilacap.

Kepala Kemenkumham Jateng dan Yogyakarta, Ibnu Chuldun mengatakan perubahan tata kelola Lapas Batu akan diputuskan setelah pihaknya bertemu dengan instansi terkait mulai BNNP, BNNK maupun Polda Jateng.

Dalam pertemuan tersebut juga akan dibahas ihwal penyelesaian kasus penyelundupan 1,2 ekstasi yang menyeret dua nama pejabat tinggi Lapas Kelas I A Nusakambangan.

“Lapas Batu nantinya kami jadikan sebagai tempat penahanan khusus bagi bandar-bandar narkotika. Narapidana diluar kasus itu tidak boleh menempati Lapas Batu,” tegasnya kepada¬†metrosemarang.com, Sabtu (5/8).

Ia pun meminta dukungan semua pihak untuk memperlancar alih fungsi Lapas Batu. Untuk saat ini, dirinya telah menyambangi Nusakambangan untuk memantau dari dekat seberapa parahkah sistem kontrol keamanan bagi narapidana.

Sebab, petugas lapas menemukan sebuah ponsel di dalam sel tahanan Aseng yang jadi otak pelaku penyelundupan 1,2 juta butir ekstasi.

“Dari hasil penyelidikan terungkap bahwa ponsel didapat Aseng dari kenalannya yang sudah bebas dari penjara. Nah kuat dugaan perantara yang memasukan ponsel ke ruang tahanannya Aseng kan berasal dari internal lapas. Itu yang kita dalami saat ini,” ujar Ibnu.

Ia pun menegaskan nantinya akan merenovasi semua bangunan lapas yang ada di Pulau Penjara Nusakambangan. Ini penting, menurutnya, supaya para sipir serta pegawai lembaga pemasyarakatan setempar betah saat tinggal di pulau tersebut.

“Kita akan tengok apakah eternit bangunannya perlu diganti atau tidak, apakah harus ada renovasi menyeluruh. Karena kita mendapati banyak pegawai lapas yang memilih ngekos di Cilacap ketimbang Nusakambangan,” sergahnya.

Pernah suatu malam, kata Ibnu saat rombongannya hendak sidak ke Nusakambangan, beberapa pegawainya meminta agar tidak dilakukan saat malam.

“Alasannya, lampu-lampu di sana banyak yang mati, jadi gelap jalannya. Ini merupakan pekerjaan rumah yang harus kita tangani secepatnya,” kata Ibnu. (far)

Ini Menarik!

Borobudur Marathon, Sejumlah Jalan Disterilkan

Share this on WhatsAppMAGELANG – Bank Jateng Borobudur Marathon (BJBM) 2017 yang digelar Minggu (19/11), …

Silakan Berkomentar