Beranda JATENG RAYA METRO SEMARANG Pasar Imlek Semawis Tak Hanya Milik Warga Tionghoa

Pasar Imlek Semawis Tak Hanya Milik Warga Tionghoa

68
0
Ketua Panitia Pasar Imlek Semawis Harjanto Halim dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meluncurkan perangko edisi Shio Anjing Tanah di sela perayaan Pasar Imlek Semawis 2018, Senin (12/2). (foto: metrojateng.com/Anggun Puspita)

SEMARANG – Pasar Imlek Semawis 2018 di kawasan pecinan Semarang resmi dibuka, Senin (12/2). Perayaan menyambut Tahun Baru Imlek tersebut tidak hanya milik warga Tionghoa tapi juga dirayakan oleh seluruh masyarakat Semarang.

Pembukaan dilakukan oleh Walikota Semarang Hendrar Prihadi dan pemangku kepentingan di Kota Semarang dengan pemukulan tabur dan kencreng.

Ketua Panitia Pasar Imlek Semawis, Harjanto Halim mengatakan, kegiatan ini sudah memasuki tahun ke 15. Semua ini karena dukungan warga pecinan dan seluruh masyarakat di Kota Semarang.

“Selama ini Pasar Imlek Semawis telah konsisten mengangkat tema yang bernafaskan keberagaman sebuah kenyataan bahwa Pecinan Semarang adalah laboratorium mini yang hidup dimana semua pemangku kepentingan saling mengenal, saling berhubungan saling srawung dalam hubungan sosial, ekonomi dan keragamaan. Kondisi kota yang aman, tentram, damai, toleran dan moderat bukanlah hasil kerja semalam oleh kelompok tapi kerja bersama banyak orang dari berbagai kelompok baik pemerintah dan media masa,  sehingga Semarang menjadi kota paling adem dan kondusif,” tuturnya.

Perlu diyakini, bahwa keberagaman adalah sebuah keniscayaan, bahwa keberagaman adalah sunnatulah rahmat Allah yang tidak bias dipungkiri. Sehingga, perlu disadari masih banyak PR yang harus dikerjakan oleh bangsa ini. “Keberagaman bukan sekadar slogan, pencitraan, ucapan. Perbedaan etnis agama ras masih menjadi belenggu. Maka melalui Pasar Imlek Semawis ini kami ingin merangkul, tidak hanya antar warga Tionghoa tapi juga seluruh warga Semarang,” kata Harjanto.

Perayaan menyambut tahun anjing tanah ini mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya. Terdapat perubahan penataan stan yang awalnya menutup seluruh Jalan Wot Gandul Timur kini hanya separuh jalan.

“Kami menerima masukan dari warga yang merasa pada saat pagi hingga siang kurang bisa beraktivitas saat penyelenggaraan acara ini. Mudah-mudahan dengan tatanan baru ini bisa menjadi solusi,” imbuhnya. (ang)