Beranda KRIMINAL & HUKUM Aplikasi Dioprek, Grab Rugi Rp 6 Miliar

Aplikasi Dioprek, Grab Rugi Rp 6 Miliar

197
0
oprek grab tersangka
Gelar perkara kasus penjualan aplikasi ilegal akses Grab, di Markas Ditreskrimsus Polda Jateng, Senin (19/4). (foto: metrojateng.com/Efendi)

SEMARANG – Delapan orang tersangka sindikat duplikasi software ilegal akses milik penyedia jasa transportasi online, Grab diringkus polisi. Mereka diringkus petugas Subdit II Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng di dua lokasi yakni Pemalang dan Semarang.

Di Semarang, petugas menangkap tersangka bernama Tommy Nur Fauzy (20) di sebuah tempat kos di daerah Jatingaleh. Ia juga merupakan otak dibalik praktik ilegal akses aplikasi (Oprek) milik Grab tersebut.

Sedangkan ketujuh tersangka lain masing-masing, Benny, Ahmad, Jahidin, Ibnu, Hidayat, Ivon, dan Kubro merupakan Driver yang menjalankan aplikasi Ilegal. Mereka diringkus di wikayah Kabupaten Pemalang oleh tim gabungan Polda Jateng dan Unit Reskrim Polres Pemalang.

“Mereka ini modusnya memasang aplikasi ilegal di telepon genggam yang terdapat di aplikasi resmi milik grab. Belajarnya Otodidak dan dilakukan kurang lebih selama dua bulan,” ungkap Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Tedy Fanani saat gelar perkara di Markas Ditreskrimsus Polda Jateng, Banyumanik, Senin (19/3).

Teddy menambahkan, dalam enam bulan terakhir pihak Grab mengalami kerugian sekitar Rp 6 milyar akibat kasus serupa. Namun tersangka yang diringkus mengaku baru melakukan tindak kejahatan tersebut rata-rata kurang dari dua bulan.

“Menurut saya masih ada yang melakukan tindakan seperti apa yang para tersangka ini lakukan yang menggunakan akun-akun tuyul. Kami mohon bantuannya baik doa maupun informasi agar bisa mengungkap yang lainnya,” imbuh Teddy.

Sementara, dalam melancarkan aksinya tersangka telah menyiapkan sejumlah telepon genggang yang sudah dimodifikasi. Modifikasi dalam hal ini termasuk aplikasi Grabdriver dengan dipasang fake GPS serta beberapa ponsel digunakan untuk melakukan order fiktif.

“Awalnya itu tersangka membagikan status di salah satu group facebook dengan membuka jasa untuk mengoprek hp atau memasang aplikasi ilegal tersebut. Namun saat ini status tersebut sudah ditake down oleh tersangka,” kata Teddy.

Dari pengakuan tersangka Tommy, ia menjual paket handphone yang sudah terisi aplikasi akses ilegal tersebut berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. “Kalau hanya masang aplikasi ya dari Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu, kalau pelanggannya biasanya driver online. Cara mendapatkan pelanggan sendiri dari mulut ke mulut,” kata Tommy.

Region Head Central Java & Spesial Region Of Yogyakarta Grab Indonesia, Ronald Sipahutar mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh petugas kepolisian dalam mengungkap kasus ini.

“Saya sangat mengapresiasi ini. Karena sebetulnya kasus seperti ini sudah beberapa kali diungkap. Yang diungkap oleh petugas Polda Jateng ini merupakan kasus kelima sebelumnya di Makasar, Surabaya, Jakarta, dan Medan, namun baru kali ini mengungkap hingga ke pengoprek, biasanya hanya drivernya saja,” tukas Ronald.

Dalam pengunggkapan ini, petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa handphone dan beberapa lainnya. Sebanyak 213 unit telepon genggam diamankan oleh petugas gabungan Polres Pemalang serta Ditreskrimsus Polda Jateng.

Sedangkan kedelapan tersangka dijerat dengan Pasal 51 ayat (1) Jo Pasal 35 UU RI Nomor 9 tentang perubahan ITE Nomor 11 tahun 2008 atau pasal 378 KUHP tentang penipuan Jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara. (fen)