Home > Uncategorized > Ombak Tinggi, Nelayan Kendal Menganggur

Ombak Tinggi, Nelayan Kendal Menganggur

Pemasangan sabuk pantai di perkampungan nelayan Tambaklorok, Semarang. (Foto: Metro)
Pemasangan sabuk pantai di perkampungan nelayan Tambaklorok, Semarang. (Foto: Metro)

 

KENDAL – Ratusan nelayan Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kota Kendal, sudah hampir sepekan tidak melaut. Tingginya gelombang Laut Jawa selama beberapa hari terakhir dan sulitnya mencari solar menjadi penyebab nelayan ini menyandarkan kapal.

Mereka memilih memperbaiki kapal, karena ketinggian gelombang mencapai tiga meter dan dianggap membahayakan jiwa para nelayan. Jika dipaksanakan untuk melaut,  nelayan ini mengaku tidak mendapat penghasilan apapun.

Suasana di muara Sungai Kendal nampak padat dengan kapal milik nelayan , kapal-kapal ini tidak melaut karena cuaca yang tidak bersahabat. Hal ini diperparah dengan sulitnya mencari solar yang mulai dibatasi pembeliannya sehingga nelayan memilih menyandarkan kapalnya

Ratusan nelayan ini mengaku terpaksa menganggur selama 4 hari terakhir karena gelombangnya dapat membahayakan keselamatan jiwa mereka. Para nelayan memilih memperbaiki kapal dengan menambal atau mengganti kayu badan kapal yang sudah lapuk sembari menunggu cuaca membaik.

Namun, jika mereka memperkirakan ketinggian gelombang tidak terlalu membahayakan, para nelayan yang tinggal di kawasan Bandengan, Kendal, ini nekat untuk melaut. Meskipun mereka mengetahui hasilnya tidak akan maksimal bahkan merugi.

Beberapa nelayan Bandengan mengaku, sekali melaut mereka harus merogoh kocek minimal Rp. 200 ribu untuk membeli solar dan kebutuhan lain. Namun jika dalam kondisi gelombang tinggi seperti ini mereka nekat melaut, mereka hanya akan mengantongi penghasilan rata-rata Rp. 150 ribu.

“Gelombangnya masih tinggi, jadi khawatir jika melaut, selain itu hasilnya sedikit, jadi kalau dijual rugi, mas,” kilah Ikhwan, nelayan setempat.

Mereka mengaku, selama 4 hari terakhir ketinggian gelombang mencapai 4 meter, sehingga jika mereka nekat melaut tidak berani dalam waktu yang lama. Biasanya apabila berangkat pukul 5 pagi, 3 jam kemudian mereka sudah berada di darat.

Nelayan juga mengeluhkan pembatasan solar yang diberlakukan pemerintah sehingga kesulitan mendapatkan solar bersubsidi. Nelayan mengaku jika membeli solar tanpa subsidi semakin mengurangi penghasilan dan memilih tidak melaut daripada menanggung kerugian. (MS-05)

Ini Menarik!

PKL Resmi di Semarang Akan Diberikan Kartu Anggota

Share this on WhatsApp SEMARANG – DPRD Kota Semarang sedang berusaha membuat peraturan yang mengatur …

Silakan Berkomentar