Home > JATENG RAYA > METRO SOLO > Nasib Terpuruk, Petani Deklarasikan Amartapadi di Boyolali

Nasib Terpuruk, Petani Deklarasikan Amartapadi di Boyolali

Pengurus Amartapadi mengecek kualitas padi dalam deklarasi berdirinya Amartapadi. Foto: metrojateng.com
Pengurus Amartapadi mengecek kualitas padi dalam deklarasi berdirinya Amartapadi. Foto: metrojateng.com

BOYOLALI – Perwakilan petani dari sejumlah daerah di Indonesia, mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Masyarakat Tani Padi Indonesia (Amartapadi). Masih terpuruknya pertanian di Indonesia serta berbagai kendala yang dihadapi petani, melatar-belakangi berdirinya organisasi ini. Deklarasi Amartapadi digelar di Desa Cermo, Kecamatan Sambi, Boyolali, Rabu (17/9).

Menurut Ketua Amartapadi, Catur Budi Setyo, petani sebagai produsen pangan saat ini belum mendapatkan kesejahteraan yang semestinya. Pemerintah justru terus melakukan impor beras ditengah petani panen raya padi.

“Ini ironi, selama lima tahun terakhir pemerintah masih impor beras secara besar-besaran. Padahal petani panen raya. Bahkan dari kuota impor beras sebesar 500 ribu ton, Bulog baru merealisasikan 50 ribu ton,” ungkap Catur kepada wartawan usai deklarasi.

Kondisi tersebut jelas membuat harga beras di tingkat petani semakin terpuruk. Ditambah lagi dengan beragam masalah pada mata rantai produksi seperti kelangkaan pupuk, benih, hingga permodalan, yang berdampak pada meningkatnya biaya produksi.

Bahkan, kata dia, seringkali petani merugi karena ongkos produksi lebih tinggi dari hasil produksi padi. Imbasnya, saat ini banyak petani pindah ke sektor lain. Tak tanggung-tanggung, selama kurun waktu 10 tahun terakhir ini tercatat 58.400 rumah tangga usaha padi yang beralih profesi.

Diakuinya, bidang pertanian dinilai belum memberikan keuntungan yang menjanjikan. Sehingga generasi muda pun enggan memilih bidang pertanian sebagai profesi. Padahal sesuai survei Badan Pusat Statistik (BPS), dari 63 persen petani Indonesia, 52 persen merupakan petani dengan rata-rata pendapatan hanya Rp 228 ribu per kapita per bulan. “Jika disandingkan dengan garis kemiskinan pedesaan sebesar Rp 286 ribu, maka nasib petani kebanyakan dekat dengan kemiskinan,” jelas dia.

Kondisi ini pun mendorong alih fungsi lahan pertanian. Petani lebih memilih menjual lahan-lahan produktif mereka. Kondisi ini pulalah yang melatar belakangi deklarasi Amartapadi yang diinisiasi oleh Aliansi Petani Indonesia (API).

Nur Hadi, dari Sekretariat Nasional API, menyatakan kedaulatan pangan harga mati bagi bangsa Indonesia. Untuk mencapai daulat pangan tersebut, petani harus memiliki organisasi yang di dalamnya bersinergi potensi-potensi pertanian seperti pemulia benih, ahli pupuk hingga pemasaran. (MJ-07)

Ini Menarik!

Ini Bocoran Menu Pesta Pernikahan Kahiyang

Share this on WhatsAppSEMARANG – Sebuah tempat persewaan alat pesta di Semarang bernama ADA mendapat …

Silakan Berkomentar