Beranda KRIMINAL & HUKUM Metha Tipe Orang yang Tidak Tegaan dengan Pembantu, Ronako Alami Trauma

Metha Tipe Orang yang Tidak Tegaan dengan Pembantu, Ronako Alami Trauma

96
0
BERBAGI
reka ulang pembunuhan metha
Salah satu adegan dalam reka ulang pembunuhan Metha, warga Perum Permata Puri. (foto: metrosemarang.com/Efendi)

SEMARANG – Keluarga korban pembunuhan warga Perumahan Permata Puri, Ngaliyan, Semarang berharap hukuman setimpal kepada pelaku. Mereka ingin hukuman maksimal dijatuhkan kepada kedua tersangka.

 

Emi Hidayati (35), yang merupakan adik dari Metha Novita Handayani (38) mengaku sangat kehilangan atas meninggalnya kakak semata wayangnya. Ia menganggap kakaknya seperti sahabat sendiri. Pasalnya ia sempat kuliah dan tinggal satu kos bersama kakaknya.

 

“Saya sangat merasa kehilangan sekali, dari kecil bareng, kuliah juga bareng, pernah satu kos bareng juga, saudara kandung saya cuma dia, sekarang kok sudah nggak ada, saya harap hukuman buat mereka (tersangka) ya semaksimal mungkin,” kata Emi usai menyaksikan reka ulang adegan pembunuhan yang Metha yang tak lain ialah kakaknya, Senin (12/3).

 

Hingga kini, Emi masih bertanya-tanya kenapa tersangka tega membunuh kakak semata wayangnya itu. Padahal, menurut Emi kakaknya merupakan orang yang baik dan pandai bergaul. Selain itu, kakaknya juga merupakan orang yang tidak tegaan kepada pembantu.

 

“Kakak saya tu nggak pernah sengaja nyuruh-nyuruh buat ngerjain apa gitu sama pembantu, paling lewat ibu saya bilangnya gini ‘Buk, itu kamar mandinya udah dibersihin belum ya,’ gitu terus biasanya ibu saya yang nyampaiin ke pembantu,” imbuh Emi.

 

Emi juga mengatakan, ketika Metha berani melarang atau menyuruh YA untuk tidak berpacaran atau bahkan memberhentikan kerja, itu karena kekhawatiran Metha lantaran di tempat ia tinggal tidak ada suami.

 

“Ya mungkin kan khawatir ya, disana juga tidak ada laki-laki. Suaminya juga tidak sedang di rumah, makanya kan mungkin takut kalau pembantunya sering bawa cowok,” imbuh Metha.

 

Sedangkan kondisi anak bungsu korban, Ronako, Emi mengatakan kini masih mengalami trauma. Ia sempat dilakukan terapy psikologi untuk mengurangi rasa trauma yang dialami oleh anak tersebut.

 

“Sudah dilakukan terapi psikologi, memang katanya tidak bisa menghilangkan rasa traumanya, tapi bisa menutupi,” imbuh Emi.

 

Kini Ronako tinggal di Jogja. Ia tinggal bersama eyang dari ayahnya beserta kakak pertamanya yang kini bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Yogyakarta.

 

Sementara, reka ulang adegan pembunuhan Metha berjalan lancar. Meski beberapa warga sempat melontarkan kekesalan mereka dengan menyoraki kedua tersangka, namun adegan demi adegan tetap terlaksana dengan aman. Kedua tersangka memerankan sebanyak 36 adegan, dimana adegan membunuh berada di antara adegan ke 21 dan 22. (fen)