Home > METROJATENG PLUS > Kesehatan > Persiapan Rohani Menuju Tanah Suci

Persiapan Rohani Menuju Tanah Suci

masjidil haram SAAT ini, umat Islam di seluruh dunia telah mempersiapkan diri untuk menjalani ibadah haji yang merupakan Rukun Islam ke-5. Ibadah haji yang mempunyai kedudukan tinggi di mata Allah SWT hingga dijanjikan balasan surga adalah haji mabrur. Untuk dapat memperoleh predikat mabrur yang melekat pada kata ‘haji’ tentu memerlukan upaya maksimal. Usaha tersebut dapat dipersiapkan sebelum kita berangkat ke tanah suci, yang berupa persiapan jasmani, rohani dan perlengkapan. Untuk lebih jelasnya, berikut tuntunan persiapan menghadapi Ibadah Haji yang kami rangkum menjadi 3 tulisan.   PERSIAPAN ROHANI Setelah sebelumnya kita telah membahas persiapan menghadapi ibadah haji yang berupa persiapan jasmani, selanjutnya kita bahas persiapan yang berupa rohani. Jemaah haji perlu secara sadar untuk berniat melakukan persiapan rohani karena tujuan berangkat haji selain untuk menjalankan  Rukun Islam, juga untuk membersihkan diri dari dosa dan penyakit hati. Dengan demikian jemaah haji diharapkan berangkat ke tanah suci dalam keadaan bersih dan suci, terlepas dari segala beban duniawi. Usahakan agar perjalanan rohani ini bisa berlangsung dengan baik dan lancar serta berharap ibadah hajinya mendapat ridho Allah SWT. Untuk bisa memperoleh haji mabrur, maka kepada calon jemaah haji diharapkan dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Ikhlas Menunaikan ibadah haji merupakan perintah Allah kepada setiap manusia yang mampu. Untuk itu pelaksanaannya harus disertai dengan perasaan tulus dan ikhlas bahwa menunaikan ibadah haji hanya karena melaksanakan perintah Allah dan mengharapkan ridho-Nya semata. Hindarkan diri dari perasaan riya, ingin dipuji, takabur, sombong, merasa hebat serta sifat-sifat buruk lainnya. 2. Sabar Sikap sabar sangat diperlukan dalam melaksanakan ibadah haji. Sikap ini bahkan mulai diuji begitu seseorang memutuskan untuk berangkat ke tanah suci. Semua urusan memerlukan kesabaran, baik pada saat pembayaran ongkos haji, pemeriksaan kesehatan, pendaftaran, menunggu panggilan untuk pemberangkatan dan lain sebagainya. Di tanah suci apalagi, saat berkumpulnya jutaan jemaah dengan berbagai sifat, tabiat, dan kebiasaan yang berbeda tentu akan ada perilaku yang bisa membuat jemaah marah. Mulai dari sekedar tersenggol, terdorong atau bahkan terinjak. Bahkan antara suami isteri pun sering terjadi pertengkaran bila tidak diredam dengan sikap sabar. 3. Tolong Menolong Sering dialami suatu keadaan seorang jemaah diminta untuk memberikan pertolongan kepada jemaah lain yang memerlukan pertolongan. Orang yang banyak menolong orang lain dengan ikhlas segala urusannya akan mudah, dan Insyallah akan terhindar dari berbagai kesulitan. 4. Uang Halal Dalam satu haditsnya Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila seseorang pergi melaksanakan ibadah haji dengan nafkah yang baik (halal) dan meletakkan kakinya di atas kendaraannya, maka ketika dia berseru, ‘Labbaik Allahumma Labbaik’, dia akan mendapat sambutan dengan seruan dari langit, ‘Diterima panggilanmu dan berbahagialah engkau, karena bekalmu halal, dan kendaraan yang engkau pakai halal, dan hajimu diterima, tidak ditolak’ (HR Thabrani dari Abu Hurairah). Dan apabila seseorang pergi melaksanakan ibadah haji dengan nafkah yang kotor (haram), dan meletakkan kakinya di atas kendaraannya, maka ketika ia berseru, ‘Labbaik Allahumma Labbaik. Dia mendapat sambutan dari langit, ‘Ditolak panggilanmu, dan celakalah engkau, karena bekalmu haram, dan kendaraan yang engkau pakai haram, hajimu ditolak, tidak diterima’ (HR Thabrani dari Abi Hurairah). 5. Membersihkan dan Sucikan Diri Maksudnya adalah membersihkan dan menyuckan diri secara rohani. Hal ini dapat dilakukan dengan cara :

  • Bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWt
  • Memohon maaf kepada orang tua, isteri/suami, anak-anak, saudara, famili, tetangga, dll.
  • Memperbaiki atau meningkatkan mutu sholat agar lebih baik
  • Mengeluarkan zakat, karena zakat ini termasuk unsur pembersih diri dan harta

6. Membereskan Hutang Piutang Hutang dapat mengganggu ketenangan dalam menunaikan ibadah haji. Sebelum berangkat, sebaiknya segala sesuatu yang berkaitan dengan hutang piutang harus dilimpahkan atau setidak-tidaknya dipermaklumkan kepada keluarga yang ditinggal agar mengetahuinya, sehingga kalau terjadi apa-apa terhadap jemaah haji mereka yang ditinggal dapat menyelesaikannya. 7. Bekal untuk Keluarga Jika jemaah calon haji berstatus sebagai kepala keluarga yang menjadi tulang punggung keluarga, maka tanggung jawab terhadap keluarga yang ditinggalkan di tanah air tetap harus dipenuhi. Oleh karena itu, sebelum berangkat jemaah calon haji harus meninggalkan bekal untuk mereka yang jumlahnya mencukupi untuk kehidupan dan keperluan mereka selama jemaah berada di tanah suci. 8. Belajar Salat Jenazah Pada musim haji, baik di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi hampir setiap sholat wajib diiringi dengan sholat jenazah. Oleh karena itu bagi yang belum mengetahui tata cara pelaksanaan sholat jenazah atau belum hafap bacaannya, dianjurkan untuk mempelajari serta menghafalkannya sebelum berangkat ke tanah suci. (eva)

Ini Menarik!

Is: Bertahan Itu Harga Mati

Share this on WhatsApp  VOKALIS Payung Teduh, Mohammad Istiqamah Djamad yang tenar dengan sapaan Is …

Silakan Berkomentar