Home > JATENG RAYA > Lawangsewu, Pintu-Pintu Menuju Pengetahuan Masa Lalu

Lawangsewu, Pintu-Pintu Menuju Pengetahuan Masa Lalu

Lawang Sewu

 

 

TANYAKAN kepada tamu dari luar kota, tempat yang ingin mereka kunjungi di Semarang. Besar kemungkinan Lawangsewu menjadi jawaban teratas. Terbukti gedung ini mampu menyedot 1000 hingga 1500 pengunjung setiap hari. Jumlah itu terus meningkat. Pada tahun 2014 jumlah pengunjung mencapai 411 ribu, lalu menjadi 680 ribu pengunjung tahun berikutnya. Jumlah ini diklaim sebagai jumlah kunjungan terbesar setelah Candi Borobudur dan Prambanan.

Tak dapat dipungkiri, gedung tua ini lebih dikenal lewat kesan angker yang dikabarkan orang-orang. Tapi sejatinya, ketika telah berada di dalam bangunan, kesan angker itu akan hilang oleh kecantikan sekaligus kecerdasan arsitektur masa lalu yang layak diserap sebagai pengetahuan.

Tak seperti namanya, Lawangsewu yang berarti seribu pintu. Pintu di Gedung bekas kantor NV Nederlandsch Indische Spoorweg Mastshappij (NIS), cikal bakal perkeretaapian Indonesia, itu tak sampai seribu. Penamaan “seribu” atau “sewu” dipengaruhi kebiasaan orang Jawa dalam menyimbolkan benda yang berjumlah banyak. Jumlah lubang pintu di gedung ini hanya 429, sedangkan jumlah daun pintunya kurang lebih ada 923. Memang nyaris seribu.

Pintu-pintu tersebut akan mengantarkan pengunjung menyesap pengetahuan sejarah perkeretaapian Indonesia yang memang dimulai dari Semarang. Di gedung A, bangunan utama berbentuk L berlantai dua. Setiap ruangan terhubung oleh pintu di tengah tembok pembatas. Di sisi ruangan, pintu dengan daun pintu krepyak masih kokoh, menghubungkan ruangan dengan selasar dan lorong bagian dalam. Beberapa engsel dan tuas pintu di antaranya masih asli. Gedung itu dimanfaatkan sebagai perpustakaan dan galeri.

Pengunjung bisa menyaksikan video sejarah perkerataapian Indonesia di salah satu ruang di sana. Foto-foto dengan keterangan lengkap juga ada di sana. Tak jarang, Lawangsewu dimanfaatkan sebagai lokasi untuk menggelar perhelatan di Semarang. Mulai dari konser musik atau festival seni hingga ilmu pengetahuan. Pada beberapa perhelatan, gedung A seringkali digunakan sebagai ruang pamer.

Pada gedung A yang merupakan gedung utama, terdapat bekas ruang direksi. Gedung ini memiliki pintu utama yang tidak dibuka sehari-hari saat ini. Di belakang pintu utama ada tangga utama dua sisi, dengan batu granit buatan Jerman, menuju lantai dua. Di atas tangga tersebut terpampang pemandangan indah dari warna- warni kaca patri yang terbagi menjadi empat panel besar. Pengunjung banyak mengunggah foto dengan latar kaca patri ini ke akun media sosialnya. Pada pagi hingga siang, warna yang dipancarkan kaca patri lebih indah.

Panel kaca patri sebelah kiri atas melambangkan kekayaan alam Jawa. Flora, fauna, perpaduan seni budaya barat dan timur yang semuanya ada di sekitar jalur kereta api. Hasil bumi serta hasil ternak dari berbagai daerah diangkut menggunakan kereta dan dikumpulkan di kota-kota pelabuhan Pulau Jawa. Selanjutnya diperdagangkan di dunia oleh Belanda.

Kaca patri sebelah kanan melambangkan Kota Semarang, Surabaya, dan Batavia yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Belanda saat itu. Kaca patri tengah atas memuat simbol kota-kota dagang Belanda, yakni Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag.

Sedangkan kaca patri bagian tengah bawah memuat gambar roda bersayap diapit oleh gambar Dewi Fortuna perlambang keberuntungan, dan Dewi Venus perlambang cinta kasih. Keduanya dianggap memiliki ikatan dengan bumi pertiwi untuk kejayaan kereta api.

Ruang-ruang yang sama didapati di gedung B yang berbentuk I. Pintu tengah menghubungkan antar ruang, juga pintu krepyak di sisi ruangan yang menembus selasar. Di beberapa sudut ruang-ruang pada gedung A dan B terdapat wastafel kecil berbahan keramik buatan Holand yang asih asli. Terdapat logo perusahaan pembuatnya, berwarna biru.

Gedung A dan B memagari lapangan bagian dalam. Berada di seberang dua gedung tersebut adalah gedung C yang dahulu dipakai untuk ruang cetak tiket kereta NV NIS. Saat ini mesin-mesin cetak masih disimpan di dalamnya. Selain mesin cetak, gedung C juga menyimpan beberapa contoh material asli yang digunakan untuk membangun Lawangsewu pada tahun 1904.

Ubin dan granit yang didatangkan langsung sewaktu itu dari Eropa, batu bata, hingga contoh bligor. Pembangunan Lawangsewu tidak menggunakan semen, melainkan bligor yang merupakan campuran pasir, kapur dan batu bata merah. Ada berbagai macam komposisi untuk kegunaannya masing-masing, semua dapat ditemui di gedung C. Bligor terbukti kokoh, tak mudah retak seperti Lawangsewu yang masih kokoh hingga kini, juga menyerap air sehingga ruang dalam sejuk.

 

Sejarah Pembangunan

Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscappij (NIS), perusahaan kereta api swasta di Den Haag, Belanda mendapat konsesi dari pemerintah Belanda untuk membangun dan mengoperasikan jalur kereta api pertama di Indonesia. Jalur kereta sepanjang 206 kilometer, antara Semarang-Solo-Yogyakarta, termasuk lintas Kedungjati-Ambarawa dibangun pada 1867-1873.

Awalnya administrasi NIS diselenggarakan di Stasiun Semarang NIS. Tahun-tahun berikutnya, jaringan kereta api semakin berkembang pesat. Pada 1893 NIS membangun jalur Yogyakarta-Brosot, disusul Yogyakarta-Ambarawa lewat Magelang dan Secang. Terakhir dibangun jalur Gundih-Surabaya sepanjang 245 kilometer. Pertumbuhan jaringan yang pesat diikuti bertambahnya kebutuhan ruang kerja sehingga diputuskan membangun kantor administrasi di lokasi baru.

Dirancanglah Het Hoofdkantoor Van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscappij atau kantor pusat NIS. Saat itu arsitek yang mendapat kepercayaan untuk membuat desain adalah Ir P de Rieau. Ada beberapa cetak biru bangunan itu, antara lain A 387 Ned. Ind. Spooweg Maatschappij yang dibuat Februari 1902, A 388 E Idem Lengtedoorsnede bulan September 1902, dan A 541 NISM Semarang Voorgevel Langevlenel yang dibuat tahun 1903. Ketiga cetak biru tersebut dibuat di Amsterdam. Namun sampai Sloet Van Den Beele meninggal, pembangunan gedung itu belum dimulai.

Pemerintah Belanda kemudian menunjuk Prof Jacob K Klinkhamer di Delft dan BJ Oudang untuk membangun gedung NIS di Semarang dengan mengacu arsitektur gaya Belanda. Lokasi yang dipilih adalah lahan seluas 18.232 m² di pinggir kota dekat kediaman Residen Hindia Belanda, di ujung selatan Bodjongweg (sekarang Jalan Pemuda) Semarang. Posisi itu kemudian mengilhami dua arsitektur dari Belanda tersebut untuk membuat gedung bersayap, terdiri atas gedung induk , sayap kiri, dan sayap kanan. Bangunan dengan banyak pintu merupakan upaya para arsitek untuk menyesuaikan kegunaan bangunan dengan iklim tropis di Semarang.

Proses pembangunan dimulai pada 27 Februari 1904. Pada awal dibangun, struktur tanah disana ternyata tidak mampu mendukung bangunan sebesar dan seberat Lawang Sewu. Dengan mengerahkan 300 orang pekerja, tanah digali hingga kedalaman empat meter. Struktur tanah pun diperbaiki dan dilapisi dengan pasir vulkanis.

Hampir seluruh material didatangkan dari Eropa, kecuali batu bata, batu alam dan kayu jati. Batu granit sekitar 350 meter persegi didatangkan dari tambang batu granit di pegunungan Fichtel, Bavaria, Jerman. Ubin serta wastafel buatan Holand dan Amsterdam, juga kaca patri dari Delft didatangkan.

Pembangunan Lawangsewu dilakukan dalam empat tahap. Bangunan yang pertama kali dibuat adalah rumah penjaga concierge dan percetakan. Selama proses pembangunan bangunan utama, dua bangunan tersebut difungsikan sebagai bangunan direksi. Tahap berikutnya adalah gedung utama, gedung dengan kaca patri indah, yang menjadi ruang direksi. Dibangun pada 1905-1907.

Pada 1 Juli 1907, gedung administrasi NIS selesai dibangun. Tanpa upacara peresmian, gedung segera digunakan. Gedung berdenah mirip huruf L ini memiliki halaman dalam (Inner courtyard) di bagian belakang bangunan. Bangunan percetakan, ruang mesin dan tempat sepeda terletak di ujung tenggara halaman.

Gedung ini dibangun dengan filosofi kesederhanaan, kecuali bagian ruang penerima (entrance hall) di sudut bangunan, yang sengaja dirancang megah. Sama seperti Stasiun Tawang. Mengacu pada arsitektur Indies, gedung ini dikelilingi selasar depan (voorgalerij) dan belakang (achtergalerij) untuk melindungi bangunan dari sengatan langsung sinar matahari tropis.

Selain selasar di luar bangunan, di dalam tengah bangunan juga terdapat selasar yang berfungsi untuk lalu lintas antar ruang. Selasar tengah yang bermuara pada ruang penerima dan tangga utama ini juga berfungsi sebagai saluran udara untuk mendinginkan udara dalam bangunan.

Selain para arsitek, pembangunan Lawangsewu juga melibatkan pengrajin dan seniman. Ornamen kaca patri dibuat oleh seniman kaca, J.L. Schouten dari studio seni kaca t’Prinsenhof Kota Delf Belanda. Sedangkan bidang lengkung di atas balkon dihiasi ornamen tembikar karya H A Koppman dan dibuat di joost Thooft dan Labouchere.

Setelah dipergunakan beberapa tahun, perluasan kantor dilaksanakan dengan membuat bangunan tambahan pada tahun 1916 – 1918. Saat itulah gedung terakhir yang dibuat menyerupai gedung utama dibuat. Tak seperti gedung utama yang tidak menggunakan besi pada strukturnya, gedung terakhir ini memakai besi. Bangunan baru ini dibuat dengan konstruksi beton bertulang, dimana dinding batu bata tidak memikul beban seperti pada bangunan utama.

Tujuannya agar sebanyak mungkin bahan bangunan lokal dapat digunakan, tanpa harus mengimpor seperti bangunan terdahulu. Saat itu di Eropa sedang Perang Dunia I. Pengiriman barang dari Belanda lambat, sehingga barang-barang lokal pun jadi prioritas. Besi, bata, genting, kaca, hingga ubin, semua buatan Semarang dan sekitarnya. Karya Klinkhamer dan Quendag ini dimulai 1916 dan selesai pada 1918.

 

Kecantikan dan Kecerdasan

Lawangsewu dibangun dengan memadukan kekhasan lokal seperti iklim dengan gaya tampilan bangunan gaya Romanesque Revival denganciri dominan elemen arsitektural yang berbentuk lengkung sederhana. Gedung dengan posisi menyudut dan penggunaan menara di depan, menyerupai bangunan sudut di kota-kota Eropa yang berkembang sejak abad pertengahan hingga kini. Lawangsewu pun hingga kini bertahan menjadi penanda Kota Semarang.

Selain itu arsitekturnya masih relevan dan layak untuk diterapkan di daerah tropis dengan dua musim, hujan dan kemarau. Bentuk atap yang digunakan adalah atap perisai dengan sudut kemiringan 45 derajat, sehingga air hujan dengan cepat jatuh kebawah. Penggunaan tritisan terlihat pula pada gedung ini untuk menghindari percikan air masuk ke ruangan. Begitu juga di bagian bawah terjadi peninggian lantai dari tanah dasar setinggi 50 cm. Sehingga banjir dapat terhindar. Halaman dibiarkan alami tanpa perkerasan sehingga air hujan dapat meresap dengan cepat kedalam tanah.

Hawa panas selalu menaungi Kota Semarang ketika musim kemarau. Namun terik di luar tidak terasa di gedung Lawangsewu, meski gedung besar bertembok tebal itu tidak memiliki alat pendingin ruangan. Rahasianya ada pada kecerdasan sistem pendingin yang dirancang menyatu dengan bangunan.

Di samping pintu-pintu yang dibuat lebar dan tinggi untuk memudahkan sirkulasi udara, Lawangsewu memiliki ruang bawah tanah seluas gedung. Terdapat beberapa ruangan yang cukup luas dengan bak-bak penampungan air untuk penguapan. Uap air dingin disalurkan melalui pipa-pipa ke dalam ruangan. Jadilah hawa di dalam gedung Lawangsewu selalu sejuk. Cara canggih dan ramah lingkungan itulah salah satu kecerdasan arsitektur yang layak dipelajari dari Lawangsewu.

Menara kembar di bagian depan ternyata bukan hanya hiasan. Melainkan digunakan untuk menempatkan tandon air bersih yang disalurkan ke seluruh ruangan. Air hujan dari atap ditampung pada talang terbuka kemudian disalurkan melalui pipa tertutup menuju bak di ruang bawah tanah. Salah satu hal yang menarik dari gedung ini ialah adanya saluran penangkal banjir yang dapat terlihat dengan jelas.

 

Gonta-Ganti Pemilik

Pada zaman Jepang, bangunan ini lepas dari tangan NIS dan dijadikan markas militer Jepang, Kempetai dan Kidobutai. Saat itulah pecah Pertempuran Lima Hari di Semarang (14-19 Oktober 1945) antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan Kempetai dan Kidobutai. Pertempuran ini dimenangkan AMKA dengan korban jiwa 2000 orang Semarang dan 850 orang Jepang.

Untuk mengenang pahlawan yang gugur pada Pertempuran Lima Hari di Semarang itulah dibangun Tugu Muda pada 1951 di Wilhelminaplein yang ada di seberang Lawang Sewu. Selain itu, bekas makam di area depan Lawang Sewu diberi penanda berupa potongan rel kereta api yang dibenamkan di tanah secara vertikal dan 20 centimeter menyembul keluar.

Setelah Kemerdekaan, bangunan ini berfungsi sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI), Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro), dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah sampai 1994. Tahun 1992, Lawangsewu ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Kini Lawangsewu dikelola oleh PT KAI dan menjadi tujuan wisata sejarah di Kota Semarang.

Sangat mudah jika ingin mengunjungi Lawangsewu, sebab gedung ini terletak di pusat Kota Semarang. Tak jauh dari Balaikota Semarang juga pusat oleh-oleh Semarang yang berderet di Jalan Pandanaran. Jika berencana mempelajari sejarah dan arsitektur Lawangsewu, jangan ragu menggunakan jasa pemandu wisata. Mereka akan memberikan informasi yang tidak tertulis di brosur. Dengan jasa pemandu maka pengunjung berkesempatan bertanya lebih banyak tentang Lawangsewu. (adv)

Ini Menarik!

Elpiji 3 Kg Harus Dijual Sesuai Ketentuan Pemerintah

Share this on WhatsApp SEMARANG – Pertamina MOR IV Jawa Tengah dan DIY menegaskan elpiji …

Silakan Berkomentar