Mengintip Pembuatan Sate Klathak Berselimut Daun Pisang

SATE klathak memang termahsyur sebagai menu khas Bantul Yogyakarta. Tapi, di tangan warga Semarang, sate klathak justru disajikan dengan cara berbeda.

Sate klathak semarang
Sate klathak khas Semarang disajikan dengan cara berbeda. Foto: fariz fardianto

Ya, sate klathak yang dijual di sebuah warung Jalan Brigjen Katamso Nomor 30, justru disajikan dengan membungkus daun pisang.

Pemilik warung sate klathak, Nur Hasan mengatakan, lembaran daun pisang dipilih karena dikenal bisa menambah aroma lebih gurih.

Nur bilang, daging yang telah ditusuk kemudian dibakar setengah matang lalu dilapisi daun pisang dan kembali dibakar hingga matang.

“Sate klathak lalu dibakar 15 menit, aroma daun pisang ini akan langsung menyengat saat dipanggang,” kata Nur, saat dijumpai, pada Rabu (9/5).

Ia mengaku tetap mempertahankan tusuk jeruji sepeda pada sate klathak. Hal ini untuk memperkuat cara pembuatan yang legendaris dari Bantul.

Sate klathak Semarang memiliki citarasa istimewa. Foto: fariz fardianto

Citarasa khas sate klathak semakin lengkap dengan lumuran bumbu kuah yang dibuat dari campuran bawang putih, merica daun salam, kayu manis dan rempah-rempah.

Pembeli, kata Nur, cukup merogoh kocek Rp 35 ribu untuk menyantap sate klatak. Ia mengaku memberi promo harga Rp 25 ribu untuk menarik minat pembeli sampai momentum Lebaran nanti.

Sate klathak bertambah sedap jika disantap memakai kuah dan nasi hangat. Sate yang dibungkus daun pisang dibuka dan dioleskan dengan kuah gulai. Tusukan sate klathak biasanya hanya dua tusuk per porsinya.

Aisyah, seorang pembeli mengaku ketagihan mencicipi sate klathak. Sebab rasanya lebih gurih karena dibungkus daun pisang.

“Tingkat keempukannya juga bikin nagih. Saya sudah coba di Yogyakarta, tapi di sini tak kalah enak,” tandasnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 76 = 83

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.