Mengenal Ajaran Kehidupan di Omah Alas Kandri

ALUNAN suara gitar dan kajon menyambut kami saat memasuki Omah Alas, Minggu (1/7) sore. Berlokasi di Dusun Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang tempat tersebut merupakan sebuah sanggar seni dan budaya.

Omah Alas menjadi media pembelajaran sosial. Foto: efendi

Pepohonan nan rimbun mengelilingi sanggar tersebut. Suara angin yang menerpa dedaunan dipadukan dengan suara kicauan burung memberikan suasana ketenangan di Omah Alas. Di tempat tersebut kita akan merasakan sensasi kedekatan dengan alam.

Sejumlah gubug berdiri di area seluas lebih dari satu hektare tersebut. Gubug yang didirikan berbahan dasar barang-barang limbah organik yang tak terpakai. Mulai dari kayu sebagai pagar hingga jerami sebagai atap gubug tersebut.

Salah satu pengurus Omah Alas, Muhamad Imron atau oleh pemuda setempat akrab dipanggil Pak Dhe mengatakan, area tersebut sudah digunakan sebagai sanggar sejak belasan tahun lalu. Berawal dari keinginan untuk merupah kebiasaan buruk pemuda setempat, Omah Alas didirikan sejak tahun 2005.

Mimbar Diskusi

Berbagai kegiatan yang memuat tentang pelajaran kehidupan sering digelar di tempat tersebut. Mulai dari diskusi ringan, kegiatan seni lintas disiplin, hingga berbagai macam pertunjukan.

Omah Alas memberi ruang diskusi tentang budaya hingga kerohanian. Foto: efendi

“Memang daerah sini kan secara budayanya nanggung, mau dibilang kota kok ya nggak kota-kota banget, mau dibilang desa juga tidak desa-desa banget. Kemudian kami membuat sanggar ini dengan harapan mengubah perilaku yang nggak jelas yang dulunya dilakukan oleh masyarakat sini,” kata Pak Dhe.

Keinginan Pak Dhe mendirikan gubug di tanah milik keluarganya itu karena bermula dari ia yang merupakan mantan orang pondok pesantren. Di awal berdirinya gubug, sebulan sekali dilaksanakan kumpulan religi sebulan sekali.

Dalam kumpulan tersebut biasa membicarakan berbagai hal tentang kerohanian yang disampaikan melalui berbagai media. Di antaranya tokoh pewayangan sebagai contoh pengaplikasian ajaran-ajaran kehidupan.

“Saya suka membahas berbagai pelajaran yang ada hubungannya dengan alam. Kami membahasnya melalui berbagai media biasanya kayak wayang jawa, solawat jawa, biasanya ke arah situ. Biasanya dilaksanakan sebulan sekali setiap Kamis Pahing,” imbuh Pak Dhe.

Ia juga mengatakan, pembahasan di setiap diskusi tak melulu soal Islam. Bahkan di beberapa kegiatan yang digelar di tempat tersebut melibatkan berbagai tokoh lintas agama. Sehingga komunikasi sesama manusia terjalin diluar perbedaan keyakinan yang mereka anut. Tak hanya sesama manusia, di tempat tersebut juga bisa berinteraksi dengan sesama makhluk hidup seperti tumbuhan dan hewan.

“Seperti kemarin waktu Ramadan kami mengadakan buka bersama, tapi kami juga mengundang teman teman lintas agama untuk datang ke sini. Ya mereka datang, mereka menjalin komunikasi baik dengan kami,” tambah Pak Dhe.

Dalam pengelolaannya Pak Dhe dibantu oleh adiknya bernama Muhamad Nur Husaini serta beberapa lainnya. Bahkan beberapa mahasiswa dari sejumlah universitas di Semarang tak jarang yang membaur dan belajar bersama di tempat tersebut. Secara kolektif mereka menghidupi sanggar termasuk logistik untuk melangsungkan kehidupan.

Pengolahan Limbah Organik

Mohamad Nur Husaini atau kerap disapa Sadam sendiri merupakan seniman patung di kampung tersebut. Ia mulai berkesenian dengan membuat patung berukuran kecil berbahan dasar limbah organik sejak 2013 lalu.

Limbah organik disulap menjadi aneka kerajinan bernilai jual tinggi di Kandri Ethnic. Foto: istimewa

“Saya juga mendorong Sadam untuk memanfaatkan sesuatu yang tak terpakai yaitu limbah. Memang saya percaya bahwa apapun itu pasti bisa bermanfaat, termasuk manusia seburuk apapun kondisi mereka pasti ada sisi bermanfaatnya, orang bodoh dalam pelajaran di sekolah bisa saja mereka memanjat pohon, mencari penghasilan dari alam,” kata Pak Dhe.

Sementara Sadam mengatakan, ia mulai berkecimpung menjadi seniman patung berawal dari keresahannya terhadap ketiadaan ciri khas kampung tersebut. Ia kemudian mengamati berbagai kegiatan warga kampung tersebut yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

“Saya memang mengamati kebiasaan warga sini, dan memang banyak petani makanya saya membuat patung kecil-kecil dari limbah organik yang menggambarkan kegiatan mereka. Ada yang satuan karakternya ada juga yang saya bikin patung cerita berbentuk diorama,” kata Sadam.

Diorama buatannya memang menggambarkan kegiatan warga setempat. Ada diorama karyanya yang memperlihatkan proses pertanian dari menanam padi, panen, hingga merubah gabah menjadi bentuk beras.

“Patung yang saya buat biasa saya jual mulai dari Rp 50 ribu kalau yang figure satuan kecil, tapi kalau yang diorama bisa sampai jutaan, kemarin termahal saya jual Rp 5 juta untuk satu diorama,” bebernya.

Untuk bahan, Sadam memanfaatkan limbah organik di sekitar rumahnya. Mulai dari ranting pohon, jerami, hingga dedaunan. Untuk mengawetkannya sendiri ia hanya memakai cat kayu yang dicampur dengan lem agar tak rapuh dan diserang rayap.

“Kalau untuk penjualannya ya sudah sampai ke Jepang, kebetulan saya ada teman saya disana yang membantu saya dalam pemasaran. Saya juga memasarkan melalui platform online juga seperti instagram dan website,” tutur pria lulusan SMA tersebut.

Dengan adanya Omah Alas serta kerajinan tangan milik Sadam, Kandri Ethnic diharapkan Kampung Kandri bisa menjadi destinasi wisata yang bisa mengedukasi pengunjungnya. Selain bisa belajar membuat patung seperti Sadam, di kampong tersebut juga bisa mempelajari bagaimana alam dan manusia bisa berkomunikasi. (efendi)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

− 4 = 2

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.