Home > PLESIRAN > KULINER JATENG > Mau Jajan Lumpia saat Lebaran? Ini Tempatnya

Mau Jajan Lumpia saat Lebaran? Ini Tempatnya

image
Lumpia Semarang

MOMENTUM Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah menjadi hari yang ditunggu para pemudik yang berada di Semarang. Dari banyak kegiatan yang anda lakukan selama pulang kampung, ada satu hal yang tak boleh terlewatkan.

Ya, bekeliling kota sambil icip-icip jajanan khas Semarang merupakan tradisi wajib bagi anda. Dan membeli lumpia harus anda lakukan saat berada di Semarang. Tapi jangan salah beli, karena lunpia asli Semarang hanya dibuat di beberapa warung saja. Pedagang lumpia asli Semarang hanya ada di warung lumpia Pemuda Mak Lin, lumpia Gang Lombok dan lumpia Jalan Mataram.

Pelanggan lumpia Mak Lin, Imam Zamzani mengaku lebih suka membeli lumpia untuk oleh-oleh sanak saudaranya yang tiba di Semarang. “Karena rasanya enak dan sangat gurih jadi saya sama keluarga sejak puluhan tahun silam berlangganan ke sini,” katanya, kepada metrosemarang.com, Senin (13/7).

Menurutnya, membeli lumpia tak hanya asal comot saja. Ia lebih suka membeli lumpia atas referensi keluarganya. Lumpia pilihannya harus renyah, rebungnya tidak berbau, rasa gurih dan manisnya harus pas. “Kakek dulu beli lumpia di sini terus jadi saya ikut-ikutan ke sini,” akunya.

Sementara sebagai pewaris kelima lumpia Semarang, Meliani Sugiarto bercerita warung lumpia Mak Lin jadi salah satu pelopor lumpia di Ibukota Jateng.

Pembuatan lumpia, awalnya dipelopori oleh kakek buyutnya pasangan suami istri (pasutri) Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasi. Mereka mulai membuat lumpia sejak 1870 silam. Lumpia buatan pasutri tersebut semula berkonsep hidangan perpaduan Jawa-China.

Lambat laun, pembuatan lumpia disempurnakan tanpa mengurangi citarasanya. Keuletan pedagang peranakan China itu kemudian diwariskan kepada anggota keluarganya hingga ke tangan Tan Yok Tjay. Dialah yang meneruskan bisnis lumpia ayahnya dengan berjualan memakai gerobak di Jalan Mataram sejak 1965.

Meliani cukup senang bila masih banyak warga luar kota yang berburu lumpia untuk berlebaran. “Apalagi sekarang lumpia diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda. Ini penghargaan tertinggi bagi kami sebagai pewaris lumpa,” kata Meliani.

Atas saran sang ayah, ia pun akhirnya juga diminta meneruskan ilmu lumpia. Meliani kemudian diajari membuat lumpia sejak remaja. Tepat tahun 1997, ia terampil membuat lumpia dan memberanikan berdagang sendiri beberapa tahun kemudian.

“Selain warung lumpia di Gang Lombok, Jalan Pemuda dan Jalan Mataram, saya lalu bikin warung sendiri di Jalan Gajah Mada Nomor 107. Itu saya lakukan setelah menekuni pembuatan lumpia selama 17 tahun,” jelas Meliani.

Saat ini, ia menciptakan variasi rasa baru dalam sajian lumpia. Di tokonya yang diberi nama Lunpia Delight, ia menawarkan lumpia original berisi rebung dicampur udang telur ayam, lumpia crab berisi daging kepiting, lumpia fish berisi sayatan kakap dan lumpia Kajamu berisi irisan daging kambing jantan. Lumpia racikannya, hanya dijual Rp 8.000-Rp 18 ribu untuk rasa spesial. (Fariz Fardianto)

Ini Menarik!

Borobudur Marathon, Sejumlah Jalan Disterilkan

Share this on WhatsAppMAGELANG – Bank Jateng Borobudur Marathon (BJBM) 2017 yang digelar Minggu (19/11), …

Silakan Berkomentar