Masjid Jami Trasan, Punya 16 Soko Guru dan Kental dengan Tradisi “Selikuran”

MAGELANG – Masjid Jami Baitul Muttaqin yang berada di Dusun Sengon Desa Trasan Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, merupakan salah satu masjid kuno seperti halnya masjid agung Kauman dan Payaman Magelang. Hingga saat ini, bangunan masjid itu masih kokoh dan nampak menyejukkan.

Masjid Jami Trasan, salah satu yang tertua di Magelang. Foto: ch kurniawati

Masjid ini salah satu yang tertua di Magelang setelah Masjid Agung Payaman dan Masjid Agung Kauman Kota Magelang. Meski tidak ada bukti tertulis namun berdasar cerita masyarakat diyakini masjid ini dibangun sekitar tahun 1773 masehi.

Dari segi arsitektur, model bangunan dan bahan bangunan Masjid Jami Baitul Muttaqin hampir sama dengan Masjid Agung Payaman dan Masjid Agung Kauman Kota Magelang. Masjid Jami Trasan ini memiliki luas bangunan 15 x 15 meter dengan seluruh kayunya menggunakan kayu jati.

Yang unik di masjid ini, adalah pemakaian 16 soko guru atau tiang penyangga masjid. Hal ini tentu berbeda dengan masjid lainnya yang hanya memiliki empat tiang. Empat tiang di tengah merupakan soko guru dengan tinggi 7-8 meter dan 12 tiang lain sekitar 2,5 meter.

Tiang-tiang tersebut berdiri dengan pola tertentu sehingga membentuk semacam ruangan atau bilik. Setiap ‘bilik’ memiliki nama tersendiri. Masyarakat meyakini setiap bilik mempunyai manfaat masing-masing. Bahkan konon ada ‘bilik’ tempat berdoa untuk meraih jabatan tertentu.

Pola dan rangkaian kayu jati ini membuat bentuk Masjid Jami Trasan menyerupai bentuk kapal kayu raksasa. Konon nama Desa Trasan ini sendiri mengandung makna terusan Demak. Ini mengandung pengertian masjid tersebut berasal atau dipengaruhi gaya arsitektur masjid di Demak.

Masjid Jami Trasan selalu ramai pengunjung saat malam 21 Ramadan. Foto: ch kurniawati

Di masjid ini tidak pernah sepi dengan jamaah yang melaksanakan ibadahnya, terutama di bulan Ramadan. Yang membedakan dengan masjid lainnya, di masjid ini ada tradisi yang sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu atau turun tumurun. Setiap tanggal 21 Ramadan, dilaksanakan tradisi “selikuran”.

Sesepuh Desa Trasan Mbah Thoyib (91) mengatakan sejak dirinya bocah Tradisi Selikuran sudah ada dan selalu diikuti ratusan warga. Tidak hanya warga sekitar Bandongan saja namun juga warga dari luar daerah. Hal ini membuat halaman masjid, halaman rumah warga dan jalanan penuh dengan mobil-mobil dari luar kota.

Mbah Toyib mengatakan, sesuai cerita dari orang tuanya, awalnya warga memilih iktikaf di Masjid Jamii Baitul Muttaqin Bandongan karena ini masjid tertua dan unik. Semakin lama semakin banyak yang iktikaf di masjid ini.

Menurut Mbah Thoyib Tradisi Selikuran dilakukan untuk menyambut Lailatul Qadar yakni malam diturunkannya Alquran.

Saking banyaknya masyarakat dari luar daerah yang menyambut Lailatul Qadar di Masjid Jami Baitul Muttaqin Trasan Bandongan maka banyak pula pedagang yang berdatangan. Mereka menjajakan aneka jajanan dan suvenir untuk para tamu.

“Sugesti para pedagang adalah jika berdagang pada Tradisi Selikuran maka barang dagangan akan laris. Rejekinya juga barokah karena memenuhi kebutuhan umat Muslim yang sedang iktikaf di masjid,” kata Basuki, salah satu warga. (MJ-24)

 

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

77 − 70 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.