Masa Kampanye, Ini Lho Kiat Cerdas Bermedsos untuk Aparat Negara

Forum Koordinasi Informasi dan Kehumasan (FKIK) Kabupaten Jepara, Senin (26/2), di Ruang Rapat I Setda Jepara. (foto: metrojateng.com/MJ-23)

JEPARA – Memasuki tahapan kampanye pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Aparatur Sipil Negara (ASN) diminta cerdas untuk bermedia sosial. Hal ini disampaikan Kabid Komunikasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jepara, Arif Darmawan dalam kegiatan Forum Koordinasi Informasi dan Kehumasan (FKIK) Kabupaten Jepara, Senin (26/2), di Ruang Rapat I Setda Jepara.

Arif Darmawan mengatakan bahwa media sosial sekarang ini, merupakan alat mobilisasi paling ampuh untuk meningkatkan kesadaran sekaligus merencanakan gerakan masa. Melalui unggahan video, gambar atau tulisan tentang peristiwa tertentu, grup-grup media sosial dapat mengumpulkan sejumlah orang untuk melakukan aksi dunia nyata. Termasuk berita hoaks, gerakan radikalisme dan juga perpecahan.

“Untuk itulah, harus lebih jeli dalam menyukapi segala informasi yang berkembnag di media sosial,” ujarnya.

Ditambahkannya, berita bohong (hoaks), seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, yang menyudutkan pihak tertentu. Isinyapun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikendaki sang pembuat hoaks.

“Jika menjumpai berita provokatif, sebaiknya mencari referensi berita serupa dari situs online resm. Kemudian dibandingkan isinya, apakah sama atau berbeda,” lanjutnya.

Untuk informasi yang diperoleh dari website, cermati juga alamat URL situs yang dimaksud. Misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

“Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat 43 ribu situs di Indonesia, yang mengklaim sebagai portal berita. Namun yang terverifikasi hanya 300an situs,” ungkap Arif.

Jika mendapatkan berita atau sumber informasi yang meragukan, segera periksa faktanya. Perhatikan dari mana berita itu berasal dan sumbernya. Apakah dari institusi resmi atau tidak. “Perhatikan keberimbangan sumber berita, jika hanya satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh,” kata dia.

Sedangkan untuk hoaks yang berasal dari gambar foto atau video, bisa dicek keasliannya bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google. Yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google images.

“Hasil pencarian ini, akan menyajikan gambar serupa yang terdapat di internet sebagai pembanding,” tuturnya.

Kementrian Kominfo juga telah mentup ribuan situs berisi konten radikal pada tahun 2017. Untuk itu, seluruh pihak perlu melakukan pendekatan secara pribadi ke akar rumput yang menjadikan media sosial sebagai lingkungan mereka. “Iya, harus cerdas bermedia sosial,” pungkasnya.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

92 − = 82

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.