Home > JATENG RAYA > Mari Goblog Bareng di Festival Lima Gunung

Mari Goblog Bareng di Festival Lima Gunung

MAGELANG – Ribuan masyarakat dari Magelang, luar kota bahkan luar negeri, berduyun-duyun datang ke lereng gunung Merbabu, dusun Gejayan Desa Banyusidi Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Minggu (30/7). Mendung yang menggantung di dusun itu justru membuat mereka betah, karena tidak ada rasa panas menyaksikan banyak performance dalam puncak penyelenggaraan Festival Lima Gunung (FLG) XVI, yang bertemakan “Mari Goblok Bareng”.

Salah satu atraksi kesenian di Festival Lima Gunung 2017. Foto: metrojateng.com

Sejak pagi sudah ditampilkan drum blek dari Kaliwungu Kendal, dilanjutkan Soreng Putri dari sanggar Seni Batara Bandongan. “Waton Wae” Pak Meng dari Salatiga mampu membuat suasana menjadi berwarna, ditambah dengan Grasak yang membuat decak kagum, lantaran kostum yang dikenakan terbuat dari bahan natural yang diperoleh dari desa setempat, seperti bunga cemara, klobot jagung, jemetri dan semacamnya.

Pukul 12.00 WIB, sang MC yang merupakan aktris, Annisa Hertami asal Muntilan Magelang, mengumumkan, acara dihentikan sejenak untuk melaksanakan salat Dzuhur. Baru setelahnya dilaksanakan kirab keliling dusun oleh para penampil.

Ketika kirab sudah usai, reporter BBC, Mas Inung dengan kostum tentaranya, dan dengan muka dicoret-coret serasa akan perang, sudah siap di Panggung. Ia mengajak kepada seluruh penonton untuk bersama-sama meneriakkan “Mari Goblok Bareng”, sebagai tema dari FLG.

Di atas instalasi terlihat sosok perempuan mengibarkan bendera Merah Putih. Sementara itu, belasan anak-anak dan pemuda berkostum warok dan binatang ada di sekeliling Mas Inung.

Ketua FLG didampingi para petinggi Festival Lima Gunung, seperti Jono Keron, Sitras anjilin, Ipang, Jono, Sarwo Edi, Handoko Sudro, juga penulis Yuke Darmawan, Riyadi satu persatu memukul gong sebagai tanda acara FLG.

Riyadi sebagai tuan rumah mengaku merasa terharu, karena FLG yang sudah disiapkan sebulan lalu berjalan dengan lancar, puluhan ribu penonton rela berdesak-desakan di dusun yang ada di ketinggian 800 dpl.

Ia mengatakan, bahwa ini bukan pekerjaannya, namun pekerjaan masyarakat desa. Bahkan kesempatan dia untuk memukul gong tidak digunakan, dan justru diwakilkan kepada seorang warga  yang memiliki ‘kelainan’ pada hidung. Orang ini meski memiliki kekurangan, namun tetap saja mampu menyumbangkan tenaganya.

Riyadi ingin menunjukkan bahwa siapapun tanpa kecuali, yang normal ataupun yang punya kekurangan, bisa berbuat sesuatu dan tidak boleh dipandang remeh atau di bully.

“Festival Lima Gunung adalah Festival Hati, mengumpulkan sanak kadang, berbahagia dan bergembira bersama,” kata Ketua FLG, Supadi dalam sambutannya.

Dilanjutkan kemudian dengan penampilan Warok Bocah dari Padepokan Wargo Budoyo dusun gejayan, lereng Merbabu. Penampilan bocah-bocah lucu ini sangat dinikmati penonton. Satu bocah yang kostum selendangnya lepas, tetap percaya diri melanjutkan menari.

Penampilan Duo sandal jepit dari Jogjakarta yang menggandengn gadis-gadis Gejayan dengan “OAO” cukup menggelitik. Hanya dari dua huruf O dan A, penampilan ini menyindir soal kondisi terkini masyarakat di era digital.

Mereka ingin menghilangkan stigma ndeso yang terkesan goblog, tidak tahu apa-apa dan sering mendapat ejekan. Kemudian dimunculkan kata Kotis yaitu perumpamaan untuk orang kota yang sok ‘keminter’ dan sok kota. Padahal sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa.

Dilanjut dengan tarian “Topeng Goblogs” dari sanggar Warangan Merbabu yang mengenakan kostum berbahan alami dari alam sekitar.

FLG ke 16 yang sudah berlangsung sejak Jumat (28/7) lalu menampilkan sebanyak 60 grup kesenian, baik tari tradisional, kontemporer, musik, puisi dan sebagainya.

Penyelenggaraan FLG ini didanai sendiri oleh masyarakat setempat dan sumbangan orang-orang yang bersimpati. Satu hal yang dihindari yakni FLG tidak menerima sponsor dari produk apapun.

Masyarakat desa ingin berbagai kebahagiaan untuk siapa saja, dan dengan apa adanya sesuai budaya yang mereka miliki. Sebanyak 40 rumah disediakan untuk menginap secara gratis, sebagai wujud bahwa mereka merupakan masyarakat yang lekat dengan kebersamaan dan kekeluargaan, tanpa diembel-embel dengan materi. (MJ-24)

Ini Menarik!

Konduktor Asal Amerika Akan Ramaikan Konser Sumpah Pemuda

Share this on WhatsAppSEMARANG – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Pemerintah Kota Semarang melalui …

Silakan Berkomentar